Di era media sosial seperti sekarang, banyak orang terbiasa membagikan hampir seluruh kisah hidupnya kepada orang lain. Di sisi lain, tidak sedikit pula yang menghabiskan waktu memikirkan hal-hal yang bahkan belum tentu terjadi. Dua kebiasaan ini sering kali dianggap biasa, padahal keduanya dapat menjadi penyebab hati terasa lelah tanpa disadari.
Dalam salah satu nasihatnya, Ustaz dr. Zaidul Akbar mengingatkan bahwa overthinking membuat seseorang menciptakan ribuan skenario yang belum Allah takdirkan. Sementara oversharing membuat seseorang menyerahkan rahasia yang Allah titipkan kepada orang yang belum tentu mampu menjaganya. Pesan sederhana ini menyimpan pelajaran yang sangat dalam tentang bagaimana menjaga hati agar tetap tenang.
Overthinking adalah kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan. Seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam memikirkan kemungkinan buruk yang belum tentu akan terjadi. Akibatnya, energi terkuras, pikiran menjadi penuh, bahkan sulit menikmati hari ini karena sibuk mengkhawatirkan masa depan.
Baca Juga: Tuwailah binti Aslam, Shahabiyah yang Menjadi Saksi Perjalanan Mulia Rasulullah
Jangan Biarkan Overthinking dan Oversharing Menguras Ketenangan Hati
Padahal sebagai seorang muslim, kita diajarkan untuk berikhtiar semaksimal mungkin, lalu bertawakal kepada Allah. Tidak semua hal berada dalam kendali manusia. Ada banyak urusan yang sudah Allah tetapkan dengan hikmah terbaik, meskipun kita belum memahaminya sekarang.
Sering kali, apa yang kita khawatirkan justru tidak pernah terjadi. Sebaliknya, jalan keluar yang tidak pernah kita bayangkan malah Allah hadirkan pada waktu yang paling tepat. Karena itu, terus-menerus memikirkan sesuatu yang belum pasti hanya akan membuat hati semakin gelisah.
Selain overthinking, ada kebiasaan lain yang juga perlu diwaspadai, yaitu oversharing atau menceritakan semua persoalan hidup kepada banyak orang. Memang, manusia membutuhkan tempat untuk berbagi. Namun tidak semua masalah harus diketahui oleh semua orang.
Ada luka yang cukup disampaikan kepada Allah dalam sujud. Ada kesedihan yang lebih baik menjadi doa di sepertiga malam. Dan ada pula rahasia yang justru akan lebih aman jika disimpan rapat, kecuali kepada orang yang benar-benar dapat dipercaya.
Tidak semua orang memiliki hati yang sama. Sebagian mungkin ikut mendoakan, tetapi ada pula yang justru menilai, menghakimi, bahkan memanfaatkan cerita kita untuk hal yang tidak baik. Karena itu, Islam mengajarkan pentingnya menjaga lisan, termasuk dalam memilih cerita yang layak dibagikan.
Belajar memilah mana yang perlu dipikirkan dan mana yang harus dilepaskan juga merupakan bentuk kedewasaan. Tidak semua persoalan membutuhkan jawaban hari ini. Ada kalanya kita cukup melakukan yang terbaik, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Begitu pula dalam berbicara. Tidak semua pengalaman hidup harus dipublikasikan. Menjaga sebagian kisah hidup bukan berarti menutup diri, tetapi merupakan cara untuk menjaga kehormatan, ketenangan, dan kebersihan hati.
Ketenangan sejati bukanlah hidup tanpa masalah. Ketenangan lahir ketika hati mengetahui kepada siapa ia harus bersandar. Saat kita mempercayakan urusan kepada Allah, beban yang semula terasa berat perlahan menjadi lebih ringan.
Mulailah membiasakan diri mengurangi overthinking dengan memperbanyak doa, zikir, dan tawakal. Kurangi pula kebiasaan oversharing dengan menjaga lisan dan memilih orang yang tepat untuk berbagi. Sebab, tidak semua yang kita pikirkan harus dipercaya, dan tidak semua yang kita rasakan harus diceritakan kepada manusia. Ada Allah yang selalu mendengar, memahami, dan tidak pernah mengkhianati setiap curahan hati hamba-Nya. [DW]
Sumber: Instagram Ustadz dr.Zaidul Akbar





