ANMAH Abu Ibrahim adalah seorang sahabat Nabi yang berasal dari kalangan Anshar. Imam al-Thabrani,” Ibn Karsir,” dan al-Haitsami”’ mencatat sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Yahya ibn Bukair dari Rafi ibn Khalid dari Muhammad ibn Ibrahim ibn Anmah al-Juhani dari ayahnya dari kakeknya bahwa pada suatu hari Nabi Muhammad Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam, keluar dan seorang lelaki Anshar menemui beliau. Lelaki itu berkata, “Wahai RasuluIIah, demi ayah dan ibuku, aku melihat raut wajahmu seperti sedang dirundung kesulitan.” Sesaat Nabi memandang orang itu, lain beliau bersabda, “Lapar.”
Baca Juga: Mengenal Abdullah bin Salam, Orang Kesepuluh yang Dijamin Masuk Surga
Kisah Teladan Anmah Abu Ibrahim yang Sangat Mencintai Rasulullah
Lelaki itu bergegas menuju rumahnya, mencari makanan yang bisa diberikan kepada RasuluIIah. Namun, ia tak menemukan sedikit pun makanan di rumahnya. Kemudian ia pergi mendatangi Bani Quraizhah dan meminta pekerjaan dari mereka untuk memanen kurma. la mendapat sebutir kurma matang untuk setiap ember kurma yang ia petik. Setelah mendapat segenggam kurma ia kembali menemui RasuluIIah Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam yang masih berada di tempat semula. la menyerahkan kurma yang berhasil dikumpulkannya kepada beliaii sambil berkata, “Makanlah, wahai Rasulullah.”
Nabi Muhammad Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh, menurutku, engkau sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya.” la menjawab, “Benar sekali, demi zat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri, anakku, keluargaku, dan harta bendaku.”
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Mendengar jawabannya, Nabi Muhammad Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Jika benar begitu, bersabarlah ketika menghadapi kesusahan dan bersiaplah menghadapi bahaya. Demi zat yang telah mengutusku membawa kebenaran, kesusahan dan bahaya lebih cepat datang kepada orang yang mencintaiku melebihi kecepatan air yang turun dari gunung.” Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Musa dan Abu Nu’aim.
Abu Musa mengatakan bahwa Ibn Syahin dan Abu Nu‘aim menyebut namanya dengan huruf “tsa” sehingga menjadi “Utsmah”, bukan “Anmah.
Sedangkan al-Hafizh Abu Abdillah ibn Mundah menyebutnya dengan huruf “nun” (Anmah). Pendapat ini juga dipegang Ibn Makula dan Abu Umar. Wallahu a’lam. [DW]
Sumber: Sumber: Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi. Muhammad Raji Hasan Kinas. Zaman: 2012.





