MENJADI wanita istimewa itu tak mudah. Terlebih istimewa di sisi Allah subhanahu wata’ala.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ath-Thabrani, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencium aroma wangi saat perjalanan Isra Mi’raj.
“Aroma wangi apa ini wahai Jibril?” ucap Rasulullah kepada Malaikat Jibril.
Malaikat Jibril menjelaskan bahwa aroma wangi itu berasal dari tukang sisir putri Firaun yang syahid demi mempertahankan keimanannya.
Di masa Nabi Musa alaihissalam, ada seorang wanita penyisir rambut putri Firaun. Sosok seorang mukmin di masa itu tak boleh ada dalam istana Firaun. Kalau ada, ia akan dipaksa dan disiksa untuk kembali musyrik.
Suatu hari, seorang penyisir rambut putri Firaun secara refleks mengucapkan ‘Bismillah’ saat mengambil sisir yang terjatuh. Ucapan itu didengar putri Firaun.
“Engkau menyebut nama Tuhan. Apakah itu ayahku?” tanya putri Firaun.
“Bukan. Itu adalah Tuhanku dan juga Tuhan ayahmu,” jawab penyisir rambut itu.
Putri Firaun mengadukan ini ke ayahnya. Firaun marah dan memaksa agar wanita tukang sisir itu mau membatalkan keimanannya. Tapi, ia tetap istiqamah.
Firaun memerintahkan untuk membakar patung sapi raksasa yang terbuat dari besi. Untuk kesekian kalinya, ia meminta lagi agar si tukang sisir mau membatalkan keimanannya, atau seluruh anggota keluarganya akan dilemparkan kedalam patung sapi yang panas itu.
“Sebelum kau lemparkan kami, aku meminta agar nanti seluruh jenazah kami dikuburkan dalam tempat yang sama,” pinta wanita penyisir rambut.
Karena tukang sisir itu tetap istiqamah, semua anggota keluarganya dilemparkan ke tempat yang sangat panas itu. Kecuali, bayi yang masih menyusu kepada wanita itu.
Saat itu, wanita penyisir rambut itu begitu kasihan dengan anaknya yang masih bayi. Tapi, Allah memberikannya keajaiban. Bayi itu tiba-tiba bisa bicara: wahai ibu, tetaplah istiqamah. Siksa di dunia ini tidak ada artinya dibandingkan dengan neraka.
Karena tetap istiqamah, bayi, si tukang sisir, dan seluruh anggota keluarganya syahid. Aroma jenazah merekalah yang tercium oleh Rasulullah dengan begitu wanginya.
**
Kematian seseorang bisa dalam bentuk apa pun: karena penyakit, karena tua, musibah, terbunuh, dan lainnya. Keistimewaan itu semua ada pada nilai husnul khatimahnya atau akhir baiknya.
Ujian untuk meraih husnul khatimah tidak melulu dialami laki-laki. Seorang wanita pun bisa mendapatkan kehormatan itu.
Inilah sebenarnya puncak pencapaian hidup yang paling istimewa. Bahkan seorang ulama pernah mengatakan, “Al mautu fi sabilillah, asma amanina. Syahid di jalan Allah merupakan cita-cita hidup tertinggi.” [Mh]


