• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Senin, 8 Juni, 2026
No Result
View All Result
FOKUS+
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Berita

Bangsa yang Lupa Merenung: Relevankah Pancasila di Era Krisis Atensi?

08/06/2026
in Berita
Bangsa yang Lupa Merenung: Relevankah Pancasila di Era Krisis Atensi?

Sumber: Pixabay

67
SHARES
516
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

LIMA hari lalu, gema peringatan Hari Lahir Pancasila memenuhi ruang publik kita dengan tema agung: “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.” Bayangkan sebuah upacara Hari Lahir Pancasila yang khidmat, di mana kelima silanya dibacakan dengan lantang. Namun tepat di bawah podium, jari-jari kita sibuk mengusir kebosanan dengan melakukan scroll tanpa henti pada video berdurasi belasan detik.

Kontras inilah wajah kita hari ini. Peringatan 1 Juni boleh saja baru lewat beberapa hari, namun krisis sejati bangsa ini bukan pada seberapa megah kita merayakannya, melainkan pada seberapa kritis sisa kapasitas atensi kita untuk merenungkannya.

Perhatian sebagai Komoditas

Ada pergeseran mendasar yang terjadi diam-diam dalam dua dekade terakhir. Ekonomi global tidak hanya memperdagangkan barang dan jasa, ia kini memperdagangkan perhatian manusia. Konsep attention economy yang dipopulerkan oleh ekonom Herbert Simon sejak akhir abad ke-20 kini menjadi kenyataan yang hidup di setiap genggaman tangan kita. Simon pernah menulis bahwa kelimpahan informasi justru menciptakan kelangkaan perhatian, dan bahwa perhatian menjadi sumber daya yang langka dan berharga.

Platform digital, dari media sosial, layanan video pendek, hingga aplikasi berita, bersaing memperebutkan detik demi detik perhatian penggunanya. Algoritma dirancang bukan untuk mencerdaskan, melainkan untuk mempertahankan keterlibatan (engagement) selama mungkin. Konten yang memicu emosi kuat, kemarahan, ketakutan, tawa instan, mendapatkan amplifikasi lebih besar karena emosi memiliki daya tahan perhatian yang lebih tinggi dibanding argumen yang bernuansa.

“Rewiring” Masa Kecil: Peringatan dari Haidt

Pada Maret 2024, psikolog sosial Jonathan Haidt dari New York University menerbitkan The Anxious Generation: How the Great Rewiring of Childhood Is Causing an Epidemic of Mental Illness (Penguin Press, 2024). Buku ini segera menjadi salah satu karya paling diperbincangkan di kalangan akademisi, pendidik, dan pembuat kebijakan di berbagai belahan dunia sepanjang 2024–2025.

Argumen utama Haidt sederhana namun mengguncang: antara 2010 dan 2015, masa kanak-kanak manusia mengalami transformasi radikal. Apa yang sebelumnya adalah play-based childhood, masa kecil yang penuh permainan fisik, interaksi langsung, dan eksplorasi dunia nyata, digantikan secara cepat oleh phone-based childhood, masa kecil yang berpusat pada layar dan media sosial. Ia menyebut ini sebagai “The Great Rewiring of Childhood.”

Salah satu akibat yang Haidt soroti secara eksplisit adalah attention fragmentation, terpecahnya perhatian secara kronis akibat notifikasi yang terus-menerus dan konsumsi konten yang serba pendek. Ini bukan sekadar gangguan sementara; ini adalah cara baru otak muda belajar merespons dunia. Dan cara baru itu, menurut Haidt, membawa konsekuensi serius bagi perkembangan sosial dan emosional generasi yang tumbuh bersamanya.

Penting untuk dicatat: debat akademik tentang seberapa kuat kausalitas antara media sosial dan kesehatan mental masih berlangsung. Beberapa peneliti, seperti Christopher Ferguson dalam meta-analisis yang ia terbitkan pada 2024–2025, mempertanyakan kekuatan bukti kausal yang diklaim Haidt. Ini menunjukkan bahwa persoalan ini lebih kompleks dari sekadar narasi tunggal. Namun yang tidak terbantahkan adalah bahwa sesuatu yang signifikan sedang terjadi pada pola perhatian generasi muda, dan ini layak kita renungkan dengan serius.

Apa yang Terjadi pada Pikiran Kita?

Para peneliti psikologi kognitif telah lama membedakan dua mode perhatian: hyper attention (perhatian yang berpindah cepat, responsif terhadap rangsangan baru) dan deep attention (perhatian yang terfokus, tahan terhadap gangguan, diperlukan untuk pemahaman mendalam). Konsep ini dikembangkan antara lain oleh Katherine Hayles dalam kajiannya tentang literasi digital sejak awal 2000-an, dan tetap menjadi kerangka yang berguna hingga kini.

Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam jurnal BMC Pediatrics pada 2025, mencakup 23 studi yang diterbitkan antara 2009 hingga November 2024, menemukan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berkaitan dengan gangguan perhatian, berkurangnya memori kerja (working memory), dan melemahnya fungsi eksekutif (executive functioning), terutama pada remaja yang menunjukkan pola kecanduan media sosial. Tinjauan ini juga mencatat bahwa penggunaan beberapa platform secara bersamaan dapat berdampak nyata pada perhatian selektif remaja.

Perlu dicatat, tinjauan yang sama juga menemukan bahwa dampaknya bersifat campuran: platform tertentu dalam konteks penggunaan yang tepat masih menunjukkan manfaat bagi perkembangan bahasa dan memori. Ini bukan kisah hitam-putih. Namun tren yang mengkhawatirkan tetap ada, dan tidak bijak untuk mengabaikannya.

Budaya scroll, notifikasi tanpa henti, dan konsumsi konten berdurasi sangat pendek secara bertahap melatih otak kita untuk semakin mengandalkan perhatian yang reaktif dan semakin jarang melatih perhatian yang mendalam. Ini bukan berarti generasi muda menjadi bodoh, mereka sering lebih cepat memproses informasi visual dan lebih terampil dalam multitasking. Namun ada kapasitas yang perlahan tergerus: kemampuan duduk diam bersama sebuah gagasan yang rumit, menahan ketidakpastian, mempertimbangkan perspektif yang tidak nyaman, dan menunda penilaian hingga pemahaman cukup matang.

Penting juga untuk meluruskan satu klaim yang sering beredar: tidak ada bukti ilmiah yang dapat diverifikasi bahwa attention span manusia turun menjadi delapan detik. Klaim itu tidak memiliki basis metodologi yang kuat. Yang lebih tepat dikatakan adalah bahwa ada perubahan dalam pola dan kualitas perhatian, bukan sekadar durasinya.

Pancasila Membutuhkan Perhatian yang Dalam

Di sinilah persoalannya menjadi sangat serius bagi bangsa ini.

Nilai-nilai Pancasila bukan sekadar hafalan lima butir yang bisa disimak dalam satu video pendek. Masing-masing sila menyimpan tuntutan psikologis yang sangat dalam.

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, pada intinya mengundang manusia untuk berefleksi moral, untuk berdiri sejenak di hadapan sesuatu yang lebih besar dari kepentingan dirinya sendiri. Refleksi semacam itu memerlukan kesunyian, bukan koneksi yang terus-menerus.

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, adalah tentang empati. Empati yang sesungguhnya bukan reaksi emosional sesaat terhadap foto yang mengharukan, melainkan kemampuan membayangkan secara mendalam kondisi orang lain yang berbeda dari kita. Psikolog Paul Bloom dalam Against Empathy (2016) membedakan antara empati emosional yang reaktif dan empati rasional yang membutuhkan usaha kognitif lebih besar, dan justru yang kedua yang dibutuhkan untuk kemanusiaan yang adil dan beradab.

Sila ketiga, Persatuan Indonesia, diuji setiap hari oleh algoritma yang dengan efisien mengelompokkan kita ke dalam echo chamber berdasarkan preferensi konten. Bukan karena orang Indonesia tidak ingin bersatu, melainkan karena arsitektur platform digital menguntungkan polarisasi. Konten yang mempertajam perbedaan mendapat lebih banyak engagement daripada konten yang membangun jembatan.

Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, adalah sila yang paling menuntut secara kognitif. Musyawarah sejati mensyaratkan kemampuan mendengarkan orang lain hingga selesai, menahan pendapat sendiri untuk sementara, merevisi posisi ketika ada argumen yang lebih baik, dan menghargai proses lebih dari kemenangan instan. Semua itu berlawanan dengan logika platform digital yang menghargai yang paling cepat, paling keras, dan paling mengundang reaksi.

Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, memerlukan sensitivitas terhadap ketidakadilan struktural yang sering tidak terlihat dalam potongan konten pendek. Masalah kemiskinan, ketimpangan akses, dan keadilan antarwilayah adalah isu-isu yang kompleks dan saling terhubung. Menyimaknya dengan sungguh-sungguh memerlukan kesediaan untuk duduk bersama narasi yang panjang dan tidak nyaman.

Dengan kata lain: setiap sila Pancasila membutuhkan deep attention. Dan deep attention adalah kapasitas yang sedang kita kikis secara sistematis.

Baca Juga: Tidak Ada yang Mustahil bagi Allah, Semua Bisa Terjadi!

Generasi Scroll, Bangsa yang Lupa Merenung: Relevankah Pancasila di Era Krisis Atensi?

Wajah-wajah Krisis Ini

Fenomena ini bukan abstrak. Ia hadir dalam keseharian yang mudah kita kenali.

Debat publik di media sosial semakin jarang berakhir dengan seseorang mengubah pikirannya. Yang lebih sering terjadi adalah pertarungan posisi: siapa yang lebih cepat membalas, siapa yang lebih keras bersuara. Cancel culture adalah salah satu bentuknya, di mana kompleksitas seseorang diciutkan menjadi satu kesalahan, dan respons kolektif terjadi sebelum ada ruang untuk pemahaman yang lebih utuh.

Penyebaran hoaks yang masif sebagian besar bukan karena orang Indonesia tidak cerdas, melainkan karena konten yang memancing emosi disebarkan dengan kecepatan yang jauh melampaui kemampuan verifikasi. Kita bereaksi sebelum kita memeriksa.

Haidt sendiri mencatat bahwa kehadiran smartphone di sekolah membuat anak-anak berbicara lebih sedikit satu sama lain, di koridor, di kantin, di lapangan. Kontak mata berkurang, tawa berkurang, dan interaksi sosial yang sesungguhnya menyusut. Yang hilang bukan hanya perhatian akademik, melainkan latihan dasar untuk hidup bersama orang lain.

Aktivisme simbolik, memperbarui foto profil, membagikan petisi daring, menyematkan tanda solidaritas, menjadi pengganti tindakan yang lebih memerlukan usaha dan perhatian. Ini bukan berarti simbol tidak punya nilai, tetapi ketika simbol menjadi pengganti keterlibatan yang sesungguhnya, ada sesuatu yang hilang dari demokrasi kita.

Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Kritik tanpa arah adalah kemewahan intelektual. Maka izinkan saya menawarkan beberapa arah yang realistis.

Pertama, pendidikan karakter perlu digeser dari hafalan menuju refleksi. Sekolah dan kampus perlu menciptakan ruang di mana siswa diajak berdiam sejenak bersama pertanyaan-pertanyaan besar, bukan sekadar mencari jawaban cepat. Metode diskusi mendalam dan pembacaan teks panjang perlu dipertahankan sebagai bagian dari ekosistem belajar, justru karena dunia di luar sekolah tidak menyediakan ruang tersebut.

Kedua, literasi digital perlu diperluas menjadi literasi algoritma. Generasi muda perlu memahami bukan hanya cara menggunakan platform, tetapi bagaimana platform bekerja, siapa yang diuntungkan dari perhatian mereka, dan mengapa konten tertentu selalu muncul di atas feed mereka. Pemahaman ini adalah prasyarat otonomi kognitif.

Ketiga, Haidt dalam The Anxious Generation mengusulkan beberapa norma kolektif yang patut dipertimbangkan dalam konteks Indonesia: sekolah tanpa ponsel adalah salah satunya.

Bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai pemulihan ruang sosial dan kognitif yang selama ini tergerus. Beberapa negara sudah mulai menerapkan kebijakan serupa, dan hasilnya layak dipelajari.

Keempat, keluarga perlu diakui kembali sebagai ruang percakapan bermakna. Di banyak rumah, makan malam bersama telah digantikan oleh masing-masing orang yang menatap layar berbeda.

Percakapan keluarga yang sesungguhnya, di mana orang yang berbeda usia dan pengalaman saling berbicara dan mendengarkan, adalah salah satu latihan deep attention yang paling alami dan paling terjangkau.

Hari Lahir Pancasila seharusnya bukan hanya hari untuk berpidato tentang nilai-nilai yang kita junjung. Ia bisa menjadi momen untuk jujur mengakui kondisi kita yang sebenarnya.

Pancasila tidak akan pernah usang sebagai cita-cita. Tetapi ia bisa menjadi asing sebagai pengalaman hidup, bukan karena generasi muda tidak mengenalnya, melainkan karena mereka hidup dalam ekosistem yang membuat mereka tidak lagi memiliki cukup ruang dan waktu untuk merenungkan maknanya.

Bahaya terbesar bukan kebodohan atau kemungkaran. Bahaya terbesar adalah kebisingan yang begitu rapat hingga tidak ada celah lagi untuk hening. Dan dalam keheningan itulah, selalu dalam keheningan itu, nilai-nilai yang sesungguhnya menemukan suaranya. [DW]

Bangsa yang Lupa Merenung: Relevankah Pancasila di Era Krisis Atensi?
Sumber: Istimewa

Penulis: Nur Hidayat, Dosen Fakultas Psikologi Uiversitas Negeri Makassar

 

 

Tags: Bangsa yang Lupa Merenung: Relevankah Pancasila di Era Krisis Atensi?
Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

Ketika Hati Memiliki Keinginan yang Berlebihan

Next Post

Bahaya Bersikap Arogan bagi Para Orang Tua

Next Post
Bahaya Bersikap Arogan bagi Para Orang Tua

Bahaya Bersikap Arogan bagi Para Orang Tua

Cara Mengatasi Anak yang Sering Merasa Sedih dan Murung

Jika Telanjur Berkata Kasar kepada Anak

Mengenal Berbagai Manfaat Kunafeh bagi Kesehatan Tubuh

Mengenal Berbagai Manfaat Kunafeh bagi Kesehatan Tubuh

  • Bun, Yuk Kenali Gangguan Pencernaan pada 1.000 Hari Pertama Bayi

    124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    8604 shares
    Share 3442 Tweet 2151
  • Doa Ibu yang Mengubah Nasib Anak

    3872 shares
    Share 1549 Tweet 968
  • Hukum Membakar Pakaian Bekas

    11420 shares
    Share 4568 Tweet 2855
  • Ayat Al-Qur’an tentang Traveling

    928 shares
    Share 371 Tweet 232
  • Pengertian Mad Thobi’i, Mad Wajib Muttasil, dan Mad Jaiz Munfasil

    4399 shares
    Share 1760 Tweet 1100
  • Bangsa yang Lupa Merenung: Relevankah Pancasila di Era Krisis Atensi?

    67 shares
    Share 27 Tweet 17
  • Rumah Zakat Hadir Dampingi Penyintas Kebakaran Kemayoran, Salurkan Bantuan dan Lakukan Pendataan Kebutuhan Pengungsi

    67 shares
    Share 27 Tweet 17
  • Doa Rabithah dan Keutamaan Membacanya

    2297 shares
    Share 919 Tweet 574
  • Tidak Ada yang Mustahil bagi Allah, Semua Bisa Terjadi!

    70 shares
    Share 28 Tweet 18
  • Doa untuk Palestina Lengkap beserta Artinya

    2199 shares
    Share 880 Tweet 550
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga