PESAN tidak selalu ditangkap sama oleh banyak orang. Hanya mereka yang paham dan akrab dengan sumber pesan yang bisa memahami dengan baik.
Haji Wada’ merupakan momen luar biasa di masa Raulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Peristiwa itu terjadi pada Zulhijjah tahun ke-10 hijriyah. Persis setelah Nabi menunaikan amanah dakwah selama 23 tahun.
Itulah untuk kali pertama umat Islam bisa berkumpul dari seluruh penjuru jazirah Arab di Masjid Al-Haram, Mekah. Jumlahnya pun yang terbesar sepanjang sejarah dakwah Nabi, kurang lebih sekitar 150 ribu orang.
Di momen itu, Nabi menyampaikan khutbah. Isinya antara lain seruan untuk menegakkan keadilan, kesetaraan, dan menjauhkan riba.
Di antara ayat Al-Qur’an yang Nabi sampaikan adalah Surah Al-Maidah ayat 3: “Pada hari ini, telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.”
Ayat ini menjadi kabar gembira untuk para sahabat yang hadir. Terbayang perjalanan berat mereka selama ini. Begitu banyak pengorbanan yang dibayar: tenaga, harta, bahkan nyawa. Dan ayat itu, seperti happy ending dari semua susah payah itu.
Mereka pun menyambutnya dengan gembira. Kecuali, sahabat dekat Nabi: Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Beliau justru menangis sejadi-jadinya.
Tentu ini sebuah pemandangan yang begitu kontras. Ada apa? Apa yang ditangkap berbeda dari seorang sahabat yang paling dekat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?
Yang ditangkap berbeda adalah kalau target misi dakwah Islam ini sudah tercapai sempurna, lalu untuk apa lagi Nabi akan hidup berlama-lama dengan mereka.
Dengan kata lain, pesan ini juga mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tak lama lagi akan berpisah dengan mereka untuk selamanya.
Para sahabat pun akhirnya ikut menangis seperti yang direaksikan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Benar saja. Sepulang dari haji yang pertama dan terakhir dilakukan Nabi itu, Nabi mengalami sakit.
Di akhir Bulan Safar, Nabi sakit demam. Kian hari, sakitnya kian parah. Kurang lebih sekitar 14 hari, Nabi wafat. Persis di tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 hijriyah.
Di momen yang terjadi setelah 3 bulan ketika ayat itu diucapkan Nabi ini, semua orang benar-benar menangis. Persis seperti menangisnya Abu Bakar Ash-Shiddiq ketika pertama kali ayat ini disampaikan Nabi.
**
Sebuah pesan itu mungkin saja menjadi multi tafsir oleh banyak orang. Tapi tidak begitu dengan mereka yang mengenal dekat sumber pesan. Mereka akan memahaminya dengan pas.
Cobalah untuk lebih baik lagi kita mengenal Allah subhanahu wata’ala, agar kita bisa lebih dalam memahami pesan dari Al-Qur’an. Cobalah untuk lebih akrab lagi kita mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, agar kita bisa lebih mudah memahami Sunnah Nabi. [Mh]





