PULAU Bali tidak hanya terkenal karena pantai-pantainya yang memukau, tetapi juga karena kekayaan budaya yang masih terjaga hingga saat ini. Salah satu destinasi yang berhasil memadukan keindahan alam, kearifan lokal, dan tradisi leluhur adalah Desa Wisata Penglipuran.
Berlokasi di Kabupaten Bangli, desa ini dikenal sebagai salah satu desa terbersih di dunia dan menjadi ikon wisata budaya Bali yang menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara.
Desa Penglipuran menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan tempat wisata lainnya. Di sini, pengunjung tidak hanya menikmati pemandangan yang indah, tetapi juga dapat menyaksikan langsung kehidupan masyarakat Bali yang masih mempertahankan adat istiadat secara turun-temurun. Hal inilah yang membuat Penglipuran menjadi salah satu desa wisata terbaik di Indonesia.
Baca Juga: Bali dan Lombok Masuk Daftar Pulau Terbaik di Asia Tahun 2025
Desa Wisata Penglipuran, Keindahan Desa Adat Bali yang Mendunia
Sejarah Desa Penglipuran
Menurut berbagai sumber sejarah, Desa Adat Penglipuran telah berdiri sejak sekitar 700 tahun lalu pada masa Kerajaan Bangli. Nama “Penglipuran” dipercaya berasal dari kata “pengeling” yang berarti mengingat dan “pura” yang berarti tempat leluhur.
Secara sederhana, nama tersebut menggambarkan sebuah tempat untuk mengenang dan menghormati para leluhur.
Masyarakat Penglipuran diyakini berasal dari Desa Bayung Gede di kawasan Kintamani. Mereka kemudian menetap di wilayah Bangli dan membangun komunitas baru yang tetap mempertahankan tradisi serta tata ruang desa warisan leluhur mereka.
Hingga kini, aturan adat atau awig-awig masih menjadi pedoman utama dalam kehidupan masyarakat setempat.
Keunikan Tata Ruang Desa
Salah satu hal yang paling menarik dari Desa Penglipuran adalah tata ruangnya yang sangat teratur. Rumah-rumah penduduk dibangun dengan bentuk arsitektur yang hampir seragam.
Setiap rumah memiliki gerbang khas Bali yang disebut angkul-angkul serta halaman yang tertata rapi.
Desa Terbersih yang Mendunia
Penglipuran sering disebut sebagai salah satu desa terbersih di dunia. Julukan tersebut bukan tanpa alasan. Kebersihan lingkungan dijaga secara kolektif oleh seluruh warga desa.
Kendaraan bermotor juga dibatasi masuk ke area utama desa sehingga suasana tetap nyaman dan bebas polusi.
Selain itu, masyarakat setempat memiliki kesadaran tinggi terhadap pelestarian lingkungan. Salah satu buktinya adalah keberadaan hutan bambu yang luasnya mencapai sekitar 45 hektare dari total wilayah desa seluas 112 hektare. Hutan ini tidak hanya menjadi paru-paru desa, tetapi juga sumber bahan baku kerajinan masyarakat. [DW]





