MENJADI duda atau janda bisa terjadi kapan pun. Meski, tak seorang pun yang ingin mengalami hal itu.
Semua pasangan suami istri selalu ingin bersama sampai mati. Tapi, tidak semua yang kita inginkan itu bisa terwujud dalam kehidupan nyata.
Ada suami istri yang berpisah karena ajal. Ada pula yang karena pisah.
Pertanyaannya, apa perbedaan umumnya yang dialami suami yang menduda dan istri yang menjanda?
Satu, istri yang menjanda suatu saat akan mengalami menopause, sementara suami tidak pernah mengalami.
Salah satu keadaan suami atau istri yang hidup sendiri adalah ‘hilangnya’ penyaluran kebutuhan biologis atau seksual. Padahal, kebutuhan ini tak ubahnya seperti makan dan minum yang selalu dibutuhkan setiap orang.
Namun, ada siklus di mana perempuan akan mengalami menopause. Biasanya berawal di sekitar usia 45 hingga 55 tahun. Salah satu dampak dari siklus ini adalah berkurangnya dorongan seksual.
Sementara itu, laki-laki tidak mengalami menopause. Dorongan seksual akan terus normal meskipun usianya tergolong lansia.
Dengan kata lain, wanita yang menjanda akan lebih kuat bertahan untuk tidak terpenuhi kebutuhan seksual daripada pria yang menduda. Wanita yang menjanda umumnya merasa tidak begitu masalah dengan kebutuhan seksual, sementara pria yang menduda menjadi sangat masalah.
Dua, wanita lansia yang menjanda seperti mendapat ‘liburan’, sementara pria yang menduda seperti mendapat ‘siksaan’.
Jangan heran ketika menemukan ibu-ibu lansia yang menjanda jauh lebih aktif mengikuti majelis taklim daripada saat mereka masih punya suami.
Hal ini karena mereka justru memiliki banyak waktu dari sebelumnya. Jika mereka solehah, waktu itu akan dimanfaatkan untuk hal kebaikan termasuk aktif di majelis taklim.
Di sisi lain, wanita lansia yang menjanda tampak lebih sehat lahir dan batin dari sebelumnya. Mereka menjadi tampak lebih ceria dan bahagia.
Tiga, daya tahan ekonomi wanita yang menjanda umumnya lebih stabil daripada laki-laki yang menduda.
Secara logika, laki-laki yang menduda lebih stabil secara ekonomi daripada wanita yang menjanda. Hal ini karena laki-laki umumnya yang lebih banyak mencari nafkah daripada wanita.
Namun dalam kenyataannya, tingkat ‘survival’ ekonomi seorang ibu lebih gigih daripada ayah. Hal ini karena para ibu lebih dekat dengan dunia kebutuhan sehari-hari daripada seorang ayah. Jika terjadi kebuntuan, ibu jauh lebih kreatif daripada bapak.
Seorang bapak mungkin saja lari atau menghindar dari beban masalah. Tapi seorang ibu, selama masih normal, dia tak akan lari dari beban masalah anak-anaknya. Ia akan berjuang sampai ‘titik darah penghabisan’.
Empat, seorang ibu bisa berperan sebagai ayah, tapi seorang ayah tidak bisa berperan sebagai ibu untuk anak-anak mereka.
Di hampir semua keluarga, anak-anak akan lebih banyak dekat dengan ibu daripada ayah. Kedekatan ini akan terus berlanjut hingga ayah dan ibu terpisah karena usia atau lainnya.
Karena interaksi alami sejak bayi, anak-anak akan merasa nyaman berada bersama ibunya tanpa ayah, daripada bersama ayah tanpa ibunya.
Tidak heran jika seorang ibu bisa berperan mencari nafkah untuk anak-anaknya, tapi seorang ayah kesulitan memberikan kenyamanan layaknya seorang ibu bagi anak-anaknya. [Mh]





