SHIRATHAL mustaqim atau jalan yang lurus merupakan doa wajib kita. Setidaknya, 17 kali umat Islam wajib membaca doa ini setiap hari: ihdinash-shirathal mustaqim. Tunjuki kami (Ya Allah) jalan yang lurus.
Tujuh Belas Kali Setiap Hari
Disadari atau tidak, umat Islam Allah wajibkan mengucapkan doa ini. Jumlahnya 17 kali. Yaitu, sebanyak rakaat shalat wajib.
Angka 17 memiliki dua hubungan istimewa. Yaitu, jumlah rakaat shalat sehari semalam. Dan angka 17 adalah nomor surah dalam Al-Qur’an, yaitu Surah Al-Isra. Surah ini mengisyaratkan peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi, yang sangat berhubungan dengan perintah kewajiban shalat.
Sebanyak 17 kali pula, Surah Al-Fatihah wajib dibaca. Salah satu isi dari surah itu adalah doa utama: ihdinas-shirathal mustaqim. Tunjuki kami (Ya Allah) jalan yang lurus.
Dari rangkaian ayat dalam Surah Al-Fatihah, doa ini dibaca setelah kurang lebih 5 kali ungkapan pujian kepada Allah. Mulai dari bismillah hingga iyyaka na’budu…
Angka 5 ini juga mengingatkan kita dengan jumlah waktu shalat yang wajib. Yaitu, Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib, dan Isya.
Hikmah Doa ‘Shirathal Mustaqim’
Doa utama dalam Surah Al-Fatihah ini memberikan hikmah yang luar biasa. Yaitu, permohonan rutin, disadari atau tidak, kepada Allah untuk terus dibimbing dalam jalan yang lurus.
Para ulama menjelaskan makna ihdina. Yaitu, permohonan dianugerahkan dua hal sekaligus: bimbingan ilmu dan amal. Tanpa ilmu, jalan akan menjadi ‘gelap’. Dan, tanpa amal, ilmu akan menjadi sia-sia.
Sementara Shirathal Mustaqim ditafsirkan sebagai agama Islam yang benar. Yaitu, agama yang telah dipeluk oleh para Nabi dan salafus soleh sesudah mereka.
Seolah tidak ada kenikmatan yang begitu besar daripada hidayah Allah ini. Karena tanpa Islam, hidup akan jauh dari Rahmat Allah subhanahu wata’ala.
Bukan Jalan yang Dimurkai dan Sesat
Sesudah mengucapkan doa ini, Allah subhanahu wata’ala juga mengajarkan doa kelanjutannya. Yaitu, perlindungan kepada Allah dari salah jalan. Yaitu, jalan orang yang mendapat murka Allah dan orang yang sesat.
Sebagian mufasir menjelaskan bahwa jalan yang dimurkai adalah jalan yang ditempuh kaum Yahudi. Dan jalan yang sesat adalah jalan yang ditempuh kaum Nasrani.
Rekayasa Buruk terhadap Islam
Musuh-musuh Islam sepertinya tak puas dengan terus-menerus ingin menghancurkan Islam: memerangi Rasulullah dan para sahabat, memerangi umat Islam, memfitnah umat Islam, dan seterusnya.
Mereka tidak puas hanya dengan melakukan itu. Para musuh Islam juga merekayasa agama Islam dalam versi mereka. Yaitu, versi yang menyimpang dari ajaran yang sebenarnya.
Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah. Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikanmu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153)
Upaya buruk ini terutama dilakukan setelah keruntuhan Kekhalifahan Islam terakhir: Turki Usmani pada tahun 1924. Setelah itu, umat Islam seperti hidangan besar yang diacak-acak oleh para musuh Islam.
Musuh-musuh Islam merekayasa Islam versi mereka. Yaitu, versi yang menjadikan umat Islam menyimpang dari jalan yang sebenarnya.
Misalnya, mereka menciptakan Islam versi nasional seperti di masa kekuasaan Kemal Ataturk di Turki. Di masa itu, Islam harus menggunakan bahasa lokal, bukan bahasa Arab. Termasuk azan harus dengan bahasa lokal.
Contoh lain apa yang kini dipublikasikan Barat di wilayah Suriah dan Irak. Mereka membangun ketakutan dunia dengan Islam versi mereka yang disebut dengan ISIS.
Hingga kini, stigma tentang Islam ISIS ini terus menjadi ‘mainan’ musuh-musuh Islam: dilakukan di dalam negeri non muslim maupun di negeri-negeri muslim.
Ciri-ciri Islam versi mereka antara lain tidak adanya tokoh ulama di situ. Versi itu muncul begitu saja dan besar melalui publikasi Barat. Kedua, tidak sesuai dengan akhlak dan hal dasar dari ajaran Islam itu sendiri. Misalnya ISIS yang kasar, jahat, dan menakutkan.
Ketiga, Islam versi mereka cenderung untuk memecah belah umat Islam dari dalam. Seolah-olah versi ini yang paling benar dan yang lainnya salah dan sesat.
Ya Allah, tunjuki kami jalan yang lurus. Yaitu, jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat. Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan (bukan pula) jalan mereka yang sesat. [Mh]





