ISTILAH “brain rot” belakangan sering digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu banyak mengonsumsi konten digital secara terus-menerus hingga kemampuan berpikirnya terasa menurun.
Meski bukan istilah medis, brain rot digunakan secara kiasan untuk menjelaskan dampak kebiasaan screen time berlebihan, terutama pada anak dan remaja.
Kondisi ini dapat terjadi ketika anak menghabiskan banyak waktu untuk menonton video singkat, scrolling media sosial, atau menikmati konten instan tanpa jeda dan tanpa aktivitas yang lebih menstimulasi otak.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Akibatnya, anak lebih sering menerima informasi secara pasif tanpa benar-benar mencerna atau memahaminya secara mendalam.
Salah satu dampak yang sering muncul adalah menurunnya kemampuan kognitif.
Anak menjadi lebih sulit fokus, cepat terdistraksi, dan kurang terbiasa berpikir kritis.
Selain itu, kreativitas juga dapat terhambat karena konten instan membuat anak lebih terbiasa menerima hiburan dibanding berimajinasi atau menciptakan sesuatu sendiri.
Waspada Brain Rot Akibat Konsumsi Konten Digital Berlebihan
Kebiasaan scrolling dalam waktu lama juga dapat mengurangi waktu produktif.
Aktivitas bermain aktif, membaca, belajar, atau berinteraksi secara langsung perlahan tergantikan oleh konsumsi konten digital yang terus berulang.
Dalam beberapa kasus, penggunaan media sosial berlebihan juga dapat memengaruhi kondisi emosional anak, seperti memicu stres, kecemasan, hingga perubahan suasana hati yang lebih cepat.
Media sosial dianggap menjadi salah satu pemicu utama karena dirancang agar pengguna terus kembali mengaksesnya.
Baca juga: Mengantisipasi Kecanduan Gadget Pada Anak
Konten pendek, cepat, dan terus berganti membuat otak terbiasa dengan stimulasi instan.
Akibatnya, anak menjadi kurang sabar menjalani proses yang membutuhkan konsentrasi dan pemikiran mendalam.
Jika tidak dikendalikan, kebiasaan ini dapat membentuk pola pikir yang dangkal dan mudah bosan.
Karena itu, penting bagi orang tua maupun lingkungan sekitar untuk membantu anak menyeimbangkan penggunaan media digital dengan aktivitas yang lebih sehat, kreatif, dan melibatkan interaksi nyata.[Sdz]
Sumber: Fatherman





