SETAN akan selalu ada hingga hari Kiamat tiba. Mereka menggoda, menakuti, dan merusak hidup manusia.
Setan itu ada dua jenis: jin dan manusia. Kalau jin itu hal gaib, sementara yang manusia sama seperti kita. Keduanya sama-sama punya misi yang sama: menjauhkan manusia dari jalan yang diridhai Allah subhanahu wata’ala.
Hal berikut ini di antara cara yang biasa mereka lakukan. Dan cara-cara itu sudah Allah sampaikan dalam Al-Qur’an yang mulia.
Satu, Menggoda dan Menakuti
Cara setan merusak manusia melalui banyak jalan. Antara lain, menggoda dan menakuti. Menggoda artinya memberikan stimulasi atau motivasi untuk melakukan sesuatu, sementara menakuti mencegah atau menghalangi untuk melakukan sesuatu.
Misalnya, setan menggoda manusia untuk memuaskan nafsu syahwat mereka: pasangan, harta, jabatan, ketenaran, dan kesombongan.
Contoh menakuti adalah setan menakuti manusia dengan takut miskin jika rajin bersedekah, takut dengan kekuatan kezaliman yang bisa mencelakai, bahkan menakut-nakuti dengan sosok setan jin sendiri.
Dua, Langkah demi Langkah
Cara setan itu dilakukan dengan khuthuwat atau langkah demi langkah. Setan menjerumuskan manusia dimulai dari hal kecil hingga hal besar, tanpa disadari manusia.
Misalnya, setan menggoda manusia untuk ‘mencicipi’ korupsi ketika awal berkuasa: “Uangnya kecil ini, gak papalah!” begitu kira-kira bisikan setan. Tapi ketika dilakukan secara rutin, maka tanpa disadari, orang itu sudah terjebak dalam korupsi besar.
Contoh lain, perselingkuhan juga diawali dari hal-hal yang dianggap ‘lumrah’. Seperti, saling memberikan sinyal suka, saling mengirim pesan via ponsel, dan seterusnya.
Tiga, menganggap Remeh Dosa
Memang, dosa itu ada kecil dan ada yang besar. Tapi, jangan salah, dosa yang besar biasanya diawali dari yang kecil-kecil.
Nah, di situlah setan memanipulasi manusia. Yaitu, memperdaya manusia bahwa dosa itu remeh. Wajar dan biasa.
Padahal, banyak orang yang tidak menyadari bahwa dosa yang ia lakukan itu sudah tergolong besar. Terlebih dosa terhadap manusia.
Hal ini pula yang menjadikan orang enggan untuk beristigfar dan bertaubat. Padahal, istigfar dan taubat memungkinkan kita untuk menyadari betapa besar dan banyaknya dosa yang telah kita lakukan.
Empat, Melupakan Mati
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita bahwa tidak ada satu pun yang bisa menghentikan keinginan syahwat manusia, kecuali kematian. Segalanya akan terasa selalu kurang dan kurang.
Setan ‘membuai’ manusia bahwa umurnya masih sangat panjang. Masih sangat muda. Nanti kalau sudah tua, barulah kembali ke jalan Allah.
Kalau orang sudah terbuai dengan jebakan setan ini, bahkan orang yang sudah sangat tua pun masih suka dengan maksiat.
Tipu daya setan itu sebenarnya sangat lemah. Sayangnya, kita kerap berada dalam posisi yang jauh lebih lemah lagi. [Mh]





