KASUS dugaan kekerasan di sebuah daycare di Yogyakarta beberapa waktu terakhir menjadi alarm keras bagi para orang tua. Ruang yang seharusnya menjadi tempat aman bagi anak justru berubah menjadi sumber kekhawatiran. Peristiwa ini tidak hanya mengguncang kepercayaan publik, tetapi juga memunculkan pertanyaan mendasar: bagaimana membaca tanda daycare yang bermasalah dan bagaimana memilih daycare yang benar-benar aman dan bertanggung jawab?
Dalam wawancara chanelmuslim.com yang dilakukan pada 28 April 2026 melalui pesan singkat, Femina Sagita Borualogo, pendiri dan pemilik Himawari Daycare di Kreo, Ciledug, Tangerang Selatan, menyampaikan pandangannya terhadap kasus tersebut sekaligus memberikan gambaran tentang standar pengasuhan yang seharusnya.
Baca juga: Anak Berusia 4 Tahun? Ajari 8 Hal Penting Ini
Membaca Tanda Daycare Bermasalah
Menurut Gita, kasus di Yogyakarta membuka mata banyak pihak terhadap ciri-ciri daycare yang patut diwaspadai. Ia menyebut beberapa indikator penting yang bisa menjadi red flag bagi orang tua.
Daycare yang tidak memiliki izin resmi, membatasi akses orang tua ke dalam fasilitas, hingga praktik penahanan ijazah tenaga pengajar menjadi tanda awal adanya masalah serius. Selain itu, tidak dijalankannya SOP, adanya luka atau lebam pada anak yang tidak dijelaskan secara transparan, serta minimnya interaksi pemilik dengan lingkungan sekitar juga patut dicurigai.
“Kasus ini membuat kita semua belajar untuk lebih kritis,” ujarnya.
Transparansi sebagai Fondasi Kepercayaan
Di tengah meningkatnya kekhawatiran orang tua, Himawari Daycare mencoba menempatkan transparansi sebagai fondasi utama. Gita menegaskan bahwa lembaganya memiliki izin resmi dari pemerintah kota dan berada dalam pengawasan rutin dinas pendidikan, termasuk inspeksi mendadak dari tingkat kecamatan hingga provinsi.
Selain itu, Himawari juga mengantongi predikat Tamasya (Taman Asuh Sayang Anak) Terbaik, serta aktif mengikuti pelatihan dari berbagai kementerian terkait pendidikan dan perlindungan anak.
Yang menarik, akses orang tua menjadi salah satu poin penting. Orang tua diperbolehkan datang kapan saja untuk melihat kondisi anak secara langsung. Hal ini, menurut Gita, menjadi bentuk keterbukaan yang lebih bermakna dibanding sekadar pengawasan jarak jauh.
Kontroversi Akses CCTV
Salah satu isu yang sering menjadi perdebatan adalah akses CCTV bagi orang tua. Di tengah tuntutan transparansi, Himawari Daycare justru tidak memberikan akses tersebut.
Keputusan ini, menurut Gita, bukan tanpa alasan. Ia menyebut pendekatan ini mengacu pada metode daycare di Jepang yang tidak menyediakan akses CCTV bagi orang tua. Kamera tetap digunakan, tetapi hanya untuk pengawasan internal oleh pemilik guna memastikan SOP berjalan.
Ada juga pertimbangan privasi dan kenyamanan, baik bagi anak maupun pengasuh. Guru di Himawari bahkan tidur siang bersama anak untuk menjaga stabilitas fisik dan emosional, sebuah praktik yang dinilai kurang pantas jika terus-menerus dipantau publik.
“Komunikasi langsung tetap menjadi jalur utama. Orang tua bisa bertanya kapan saja kepada kepala sekolah,” jelasnya.
Rasio Guru dan Anak: Kunci Pengasuhan Berkualitas
Salah satu aspek penting yang sering luput dari perhatian orang tua adalah rasio antara guru dan anak. Padahal, faktor ini sangat menentukan kualitas pengasuhan.
Di Himawari Daycare, rasio ini dijaga ketat sesuai usia dan tingkat kemandirian anak. Untuk bayi usia 2–12 bulan, satu guru hanya menangani dua bayi. Sementara untuk usia 1 tahun, satu guru mendampingi tiga anak, dan jumlah ini meningkat bertahap hingga tujuh anak untuk usia lima tahun.
Pendekatan ini bertujuan mencegah kelelahan pada guru sekaligus memastikan setiap anak mendapatkan perhatian yang cukup.
Antara Rasa Cemas dan Sikap Objektif
Kasus kekerasan di daycare memang meninggalkan trauma kolektif bagi para orang tua. Namun, Gita mengingatkan pentingnya tetap bersikap objektif dalam menilai sebuah lembaga.
“Wajar jika orang tua merasa khawatir. Tapi penting juga untuk melihat secara menyeluruh—izin, sistem, keterbukaan, dan kualitas pengasuhan,” ujarnya.
Peran Orang Tua: Tidak Sekadar Menitipkan
Kasus ini mengingatkan orang tua bahwa memilih daycare bukan sekadar soal fasilitas atau lokasi. Orang tua perlu aktif mencari informasi, melakukan kunjungan langsung, hingga membangun komunikasi dengan pengelola.
Kepercayaan memang penting, tetapi harus dibangun di atas sistem yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Di tengah meningkatnya kebutuhan daycare akibat kesibukan orang tua, kualitas pengasuhan tidak boleh menjadi kompromi. Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan sekadar kenyamanan, tetapi masa depan dan keselamatan anak.[ind]




