IHDINAS Shirothol Mustaqim. Tunjuki kami (Ya Allah) jalan yang lurus. Yaitu, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat. Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat.
Doa yang Menjadi Rukun Shalat
Doa ini terdapat dalam Surah Al-Fatihah, dan Surah Al-Fatihah harus dibaca di setiap rakaat shalat. Karena itu, setidaknya, ada 17 kali umat Islam memanjatkan doa ini setiap hari.
Doa ini diucapkan setelah kita memuji dan mengagungkan Allah subhanahu wata’ala. Yaitu, pada ayat pertama hingga keempat dari Surah Al-Fatihah.
Setelah itu, Allah mengajarkan kita untuk mengucapkan kalimat ‘penghubung’ antara pujian dan doa. Yaitu, hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.
Seolah, kita sedang merayu Allah bahwa di balik ungkapan pujian dan keagungan Allah yang disebutkan sebelumnya ada maksud tersendiri. Yaitu, agar Allah subhanahu wata’ala mau mengabulkan doa kita.
Doa yang Paling Utama
Allah tidak mengajarkan kita dalam Surah Al-Fatihah ini permohonan doa yang lain-lain. Seperti, meminta rezeki yang banyak, kesehatan lahir batin, anak-anak yang soleh dan solehah, mati dalam husnul khatimah, dan lainnya.
Namun, cukup dengan satu doa yang begitu luar biasa pentingnya dalam hidup dan mati kita: tunjuki kami jalan yang lurus.
Apalah arti semua permintaan kita kepada Allah jika tanpa adanya jalan yang lurus. Karena dengan jalan yang lurus ini, kita akan mendapatkan segalanya.
Makna Tunjuki dan Jalan yang Lurus
Para mufasir menjelaskan makna dari dua kata di atas: tunjuki dan jalan yang lurus. Tunjuki memiliki dua makna, yaitu ilmu dan amal. Tanpa ilmu, kita tidak bisa beramal dengan baik. Dan, tanpa amal, ilmu akan sia-sia.
Jalan yang lurus adalah Islam yang benar, Al-Qur’an dan Sunnah, dan jalan yang telah ditempuh oleh para salafus soleh. Yaitu, jalan orang-orang soleh terdahulu yang telah terbukti ikhlas dan istiqamah.
Islam Itu Rahmat Allah subhanahu wata’ala
Islam itu ungkapan kasih dan sayang Allah subhanahu wata’ala kepada umat manusia. Allah tidak sekadar menyediakan sarana hidup, tapi juga aturan dan garisnya. Hal ini agar manusia tidak salah menempuh jalan, meskipun terlihat ‘baik’.
Aturan dan garis hidup itu tersaji lengkap dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Kita tinggal merujuk dan mengikutinya.
‘Islam’ yang Manipulatif
Musuh-musuh Islam, dari zaman ke zaman, berupaya untuk menyesatkan umat Islam melalui ‘Islam’ yang mereka buat dan rekayasa. Seolah-olah itulah arah kebaikan yang kita tuju, padahal sebenarnya manipulasi yang justru menyesatkan dan membuat Allah marah dengan kita.
Antara lain, ada yang mengajak kepada ‘islam’ yang hanya ibadah saja, tanpa berjihad dan bermuamalah. Ada juga yang mengajak kepada ‘islam’ yang berjihad saja, tanpa ibadah dan muamalah. Dan ada juga ‘islam’ yang hanya muamalah saja, tanpa ibadah dan jihad.
Semua itu tampak bagus dan menarik. Sulit untuk dinilai kebaikan dan kebenarannya. Jika tidak ada anugerah hidayah Allah, kita akan tersesat dari jalan yang lurus.
Yaitu, jalan yang telah ditempuh para Nabi dan Rasul dan umatnya sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, jalan yang ditempuh Rasulullah dan para sahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in. Wallahu a’lam. [Mh]





