PELAKSANAAN Kajian Makna Series 6.0 – Khadija Session pada Sabtu (25/4/2026) di Hotel Grand Kemang juga membahas pendekatan spiritual dalam menghadapi luka batin akibat relasi sosial.
Dalam sesi tersebut, Ustazah Qotrunnada Syathiry menguraikan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengembalikan ketenangan hati.
Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang berada dalam kondisi sedih, kecewa, atau merasa dikhianati, maka arah kembali yang dianjurkan adalah kepada Allah dan Rasul-Nya.
Pendekatan ini dipandang sebagai cara untuk menemukan ketenangan batin serta memperkuat ketahanan emosional.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Dalam kajian tersebut, Ustazah Qotrunnada juga menyampaikan pentingnya memperbanyak doa dan dzikir sebagai bentuk ketergantungan kepada Allah.
Salah satu doa yang disampaikan adalah “Hasbunallah wani’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashiir” yang bermakna bahwa Allah adalah sebaik-baik pelindung dan penolong.
Selain itu, peserta diperkenalkan pada amalan shalawat Asyghil yang dimaknai sebagai permohonan perlindungan dari orang-orang zalim.
Amalan ini disebut sebagai salah satu bentuk ikhtiar spiritual dalam menghadapi tekanan atau konflik dalam kehidupan sehari-hari.
Kajian Makna Series 6.0 Soroti Cara Kembali kepada Allah Saat Hati Terluka
Baca juga: Kajian Makna Series 6.0: Mengurai Luka dan Makna Relasi dalam Perspektif Spiritual
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya kualitas dalam menjalankan ibadah shalat.
Menurutnya, shalat tidak hanya sebatas kewajiban, tetapi juga menjadi momen untuk merasakan kedekatan dengan Allah.
Dengan menghadirkan kesadaran tersebut, seseorang diharapkan mampu meredakan kesedihan dan memperoleh ketenangan.
Melalui kajian ini, peserta diajak untuk melihat bahwa setiap luka yang dialami dalam hubungan antarmanusia dapat menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Pendekatan spiritual tersebut diharapkan mampu membantu individu dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan dengan lebih tenang dan bijaksana.[Sdz]





