PEPATAH mengatakan, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Begitu pun anak dan orang tua.
Sebagian kita mungkin mengira kalau mujahidin di masa Rasulullah adalah mereka yang sudah dewasa. Dugaan itu ternyata salah. Tidak sedikit dari mereka yang remaja belasan tahun.
Hal ini tercatat dalam sejarah tentang siapa yang mengalahkan Abu Jahal di Perang Badar. Bukan Ali bin Abi Thalib. Bukan pula Umar bin Khaththab. Melainkan, dua remaja usia 14 dan 16 tahun: ‘Auf bin Afra dan Muadz bin Afra.
Di setiap momen persiapan perang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam harus lebih teliti tentang calon pasukan. Karena jika tidak, yang ikut masih tergolong anak-anak.
Suatu kali, ada seorang remaja yang menarik perhatian Rasulullah di sebuah barisan calon pasukan Perang Uhud. Ia mengaku bernama Abu Said Al-Khudri bin Sinan radhiyallahu ‘anhuma.
Rasulullah pun menganulir calon ini. Alasannya karena masih anak-anak. Rasulullah menanyakan tentang usianya. Anak itu menjawab, 13 tahun.
Abu Said Al-Khudry yang juga ahli hadis ini begitu semangat ingin ikut jihad bukan karena dipaksa orang tuanya. Tapi karena semangatnya untuk bisa ikut berjihad bersama mujahidin.
Begitu pun dengan calon lain seperti Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu. Di usianya yang juga masih 13 tahun, anak jenius ini sudah ikut mendaftar menjadi mujahidin. Tapi, hal itu dianulir Rasulullah, dan baru boleh diikutkan beberapa tahun kemudian.
Masih banyak remaja di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang tiba-tiba muncul dan bersemangat ikut mendaftar. Tapi, mereka harus menerima penundaan itu karena usia mereka masih tergolong anak-anak.
Para remaja ini bukan tidak tahu keadaan di arena jihad. Bukan pula karena iming-iming materi. Bukan pula karena tidak tahu risikonya. Sama sekali bukan. Mereka merupakan buah tarbiyah Islam dan keteladanan dari ayah ibu mereka di rumah.
**
Jangan pernah salahkan anak-anak karena sisi negatifnya. Karena mereka tak lebih dari cerminan ayah ibunya di rumah.
Koreksi dan evaluasi diri, duhai para orang tua, karena mereka tumbuh dari bayang-bayang ayah ibunya. Bersabarlah dalam mendidik mereka, karena mereka adalah buah yang paling mahal yang dimiliki para orang tua. [Mh]





