BANI Israil adalah keturunan Nabi Ya’kub. Di antara mereka adalah kaum Yahudi yang kini menguasai Palestina. Mereka menamakan negaranya dengan Israel.
Dalam Al-Qur’an, Surah Al-Isra ayat 4 sampai dengan 7, Allah subhanahu wata’ala menetapkan nasib Bani Israil dalam tiga keadaan.
Keadaan pertama adalah hukuman Allah karena kerusakan besar yang mereka lakukan. Hukuman itu berupa serangan besar-besaran dari Raja Babilonia: Nebukadnezar, pada abad keenam sebelum masehi.
Babilonia mengalahkan kerajaan Bani Israil dan menghancurkannya. Bahkan, seluruh warganya diusir, sebagiannya lagi dijadikan budak. Nebukadnezar juga menghancurkan Kota Yerusalem saat itu.
Sejak itu, orang-orang Yahudi tidak lagi menetap di satu tempat. Mereka hidup di tanah-tanah pengungsian di banyak pelosok negara. Bahkan, ada di antara mereka yang tinggal di Madinah.
Namun tetap saja, karakter buruk mereka tak berubah. Mereka suka membuat kerusakan, menghalalkan segala cara, dan sebagainya.
Keadaan Kedua: kaya raya dan menguasai dunia modern.
Keadaan kedua yang Allah tetapkan untuk Bani Israil adalah kehidupan yang menyenangkan. Mereka menjadi begitu kaya, menguasai dunia, teknologi, ekonomi dan keuangan, dan lainnya.
Bisa dibilang, mereka di balik perang dunia pertama dan kedua, yang menghancurkan Kekhalifahan Usmani sehancur-hancurnya.
Setelah kemenangan dan kejayaan itu, kaum Yahudi ini mendeklarasikan negara baru di bumi Palestina. Namanya Israel, pada tahun 1948.
Allah memberikan kesempatan kepada mereka untuk membalas dendam kepada musuh-musuh mereka. Termasuk terhadap umat Islam.
Mereka hidup bergelimang harta, semua kekuatan dunia di bawah kendali mereka, pusat-pusat keuangan dunia juga milik mereka.
Keadaan Ketiga: hukuman kehancuran Israel seperti hukuman di awal lalu.
Kaum Yahudi dalam naungan negara Israel melakukan kerusakan di muka bumi. Di mana pun, selama di situ ada umat manusia.
Mereka menghalalkan riba atau ekonomi rentenir, melazimkan pembunuhan dan perzinahan juga perjudian. Mereka memanipulasi umat manusia dengan segala cara agar mau tetap di bawah kekuasaan mereka.
Janji Allah yang ketiga ini memang belum terjadi. Yaitu, kehancuran total yang akan dialami kaum Yahudi oleh kekuatan dahsyat dari musuh-musuh mereka.
Al-Qur’an menyebutnya uli ba’sin syadiid, kelompok umat manusia yang kuat. Yang kekuatannya mampu mengalahkan tipu daya kaum Yahudi selama ini.
Kelak, penghancur terakhir kaum Yahudi ini akan memasuki Israel, dan menghancurkan Yerusalem. Mereka juga akan membinasakan apa saja yang mereka temui.
Saat itu itulah, kaum Yahudi disebut Allah dengan keadaan berwajah suram. Suram karena kekalahan, suram karena ketakutan, dan suram karena kebinasaan untuk selamanya.
Maha Benar Allah dalam firman-Nya: Dan Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu, “Kamu pasti akan berbuat kerusakan di bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.
“Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang perkasa, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.” (QS. Al-Isra: 4-5)
Hukuman yang kedua untuk Bani Israil memang belum terjadi. Tapi, semua hanya soal waktu. Apakah bulan depan, tahun depan, atau sebentar lagi. [Mh]





