NIKMAT Allah yang paling besar adalah hidayah iman dan Islam. Karena dengan itulah, ada kebahagiaan abadi di akhirat kelak.
Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ada seorang tokoh yang begitu berjasa, dekat, dan sangat melindungi Nabi. Tapi, ia tidak mendapatkan hidayah iman dan Islam. Ia adalah Abdul Manaf bin Abdul Muthalib atau biasa disebut Abu Thalib: seorang paman Nabi.
Memang, sebagian ulama berpendapat bahwa beliau masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Namun, jumhur ulama berpendapat, seperti Sabda Nabi dalam hadis shahih, bahwa Abu Thalib tidak masuk Islam.
Abu Thalib lahir lebih awal sekitar 30 tahun sebelum Nabi. Ia meneruskan wasiat dari ayahnya: Abdul Muthalib untuk terus merawat dan menjaga Rasulullah seperti anak sendiri.
Wasiat itu disampaikan ayahnya sebelum wafat. Saat itu, Rasulullah yang masih berusia 8 tahun dalam pengasuhan dan perawatan kakeknya setelah ibundanya: Aminah wafat.
Sejak dalam pengasuhan Abu Thalib, Rasulullah kecil diperlakukan seperti anaknya sendiri. Bahkan, melampaui anak-anak kandungnya.
Abu Thalib memiliki 7 anak, termasuk di antaranya Ja’far dan Ali radhiyallahu ‘anhuma, yang kemudian menjadi sahabat utama Rasulullah.
Setiap kali akan makan atau menikmati hidangan keluarga, semuanya tak boleh memulai sebelum Nabi memulai. Begitu pun dengan tempat tidur Nabi. Hanya Rasulullah yang tempat tidurnya berada di posisi paling dekat dengan Abu Thalib.
Perlakuan istimewa Abu Thalib ini, terus berlangsung hingga Rasulullah menjadi Nabi dan Rasul. Ia seperti ‘pasang badan’ terhadap keselamatan diri Rasulullah. Karena itulah, selama ia masih hidup, tak ada kafir Quraisy yang berani mencelakai Rasulullah. Saat itu, usia Abu Thalib sudah 70 tahun.
Dan ketika Abu Thalib wafat di tahun kesembilan atau kesepuluh kenabian, Malaikat Jibril mengabarkan ke Nabi bahwa saatnya bersiap untuk meninggalkan Mekah. Hal ini karena tak ada lagi sosok pelindung Nabi terhadap tokoh Quraisy lain.
Sekitar satu bulan setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencoba berdakwah ke Thaif. Tapi, upaya itu mendapat penolakan. Dan tak lama kemudian, Allah subhanahu wata’ala ternyata sudah menyiapkan satu tempat yang jauh lebih baik dari Thaif, yaitu Madinah.
Sejak usia 8 tahun Nabi tinggal bersama Abu Thalib: menetap di situ, tidur di situ, makan dan minum bersama-sama. Bahkan, hingga usia Nabi hampir 50 tahun pun, Abu Thalib tetap memperlakukan Nabi seperti anak kandungnya.
Namun, kehendak Allah di luar yang diinginkan Nabi. Hingga ajalnya datang, Abu Thalib tidak masuk Islam. Padahal Nabi sangat menginginkan itu.
Sebagian mufasir merujuk peristiwa itu pada Surah Al-Qashash (28) ayat 56: “Sesungguhnya engkau tidak akan dapat memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberikan hidayah kepada orang yang dikehendaki-Nya…”
**
Di banding dengan begitu banyak manusia di muka bumi ini, Allah menganugerahkan hidayah kepada kita. Padahal, sebagian kita tak pernah mencari dan meminta. Kita lahir dari ayah ibu yang muslim, dan kita pun menjadi muslim.
Dari situlah kita mengenal iman dan Islam. Kita mengamalkan shalat, dan rukun Islam yang lain. Inilah nikmat Allah yang paling mahal untuk kita. Tak sebanding dengan nikmat apa pun.
Sayangnya, tidak semua kita menyadari anugerah hidayah yang mahal itu untuk kita. [Mh]




