KASUS Jeffrey Epstein tiba-tiba kembali mencuat ke publik sejak akhir Januari lalu. Hal ini seiring dengan kebijakan dokumen di AS yang dipublikasikan setelah lewat waktu tertentu. Inikah ‘pukulan’ Israel untuk Trump?
Jejak Epstein Files
Epstein adalah merujuk pada sosok bos pedofil sejak 2005 hingga 2019 lalu. Nama lengkapnya Jeffrey Epstein. Warga New York yang juga seorang Yahudi tulen.
Pria kelahiran 1953 ini awalnya orang baik. Ia seorang guru di wilayah kelahirannya: New York. Tapi entah apa dan bagaimana, tiba-tiba Epstein masuk ke dunia bisnis keuangan.
Banyak kejanggalan di situ. Mulai dari awal mula melompat dari pendidik ke banker, juga tentang siapa pemodal besarnya. Dan lebih aneh lagi, Epstein tiba-tiba membangun bisnis esek-esek gadis di bawah umur.
Keanehan demi keanehan ternyata tidak berhenti di sini saja. Pasalnya, jaringan pelanggan bisnis baru Epstein merupakan orang-orang kelas elit: pejabat tinggi dan tokoh masyarakat di berbagai negara.
Para analis menyimpulkan bahwa di balik proyek gelap Epstein ada operasi intelijen tingkat dunia yang diduga dimainkan oleh Mossad atau Israel.
Beberapa kali Epstein ditangkap pihak kepolisian AS karena laporan dari orang tua korban. Tapi, beberapa kali itu pula ia berhasil lepas. Dan terakhir, pada tahun 2019, Epstein akhirnya ditangkap. Tapi, hal misterius lain tak kalah anehnya. Ia tiba-tiba ditemukan tewas gantung diri di sel tahanannya.
Masalah ternyata tidak usai begitu saja seiring kematian Epstein. Ternyata, ada yang lebih besar di balik kasus Epstein. Yaitu, dokumen-dokumen bisnis esek-esek Epstein yang ternyata disimpan dengan baik oleh pihak tertentu. Dokumen itu atau kini disebut Epstein Files meliputi laporan tulisan lebih dari sejuta halaman, ribuan foto dan rekaman video.
Dan dari sebanyak dokumen itu, Trump dikabarkan berada di ‘angka’ paling atas. Memang, ada nama-nama tokoh pejabat tinggi lain, tapi Trump yang dikabarkan menempati peringkat paling banyak disebut: lebih dari seribu delapan ratus kali.
Apa di Balik Epstein Files
Kasus Epstein bukan barang baru. Bahkan sudah lewat dari enam tahun. Sosok-sosok ‘hitam’ yang pernah disebut-sebut sepanjang kurun waktu itu sudah pula diketahui publik.
Pertanyaannya, kenapa diviralkan ulang? Dan Trump menjadi sasaran tembak utama.
Sebenarnya, di masyarakat AS dan Eropa, kasus perzinahan bukan hal yang serius. Sudah lumrah. Tapi, si ‘pemain utama’ paham betul bahwa ‘jualannya’ bukan tentang kasus perzinahan. Tapi, pedofil atau kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur.
Jika ini bisa masuk ke ranah hukum, maka pihak-pihak yang disebut bisa dijerat hukum. Terutama, Trump. Atau setidaknya, ini menjadi ‘pukulan’ untuk mempermalukan presiden AS itu.
Pertanyaannya kemudian, siapa yang saat ini berkepentingan dengan mempermalukan Trump?
Jawabannya, mungkin bisa dirunut dari ledakan besar yang beberapa hari terakhir ini mengguncang pengungsian Gaza. Lebih dari 30 orang tewas tanpa sebab yang jelas kenapa mereka harus menjadi sasaran tembak.
Tembakan Israel itu dilakukan di saat ‘semerbaknya’ Dewan Perdamaian (Board of Peace) kreasi Trump. Sontak, dunia ditegaskan bahwa BoP tak punya arti apa-apa. Tak ada gunanya ikut menjadi anggota. Karena Trump seperti bukan ‘siapa-siapa’. Israellah yang seolah paling berkuasa.
Kenapa Israel sebegitu Marahnya terhadap Trump?
Peledakan di Gaza dan viralnya Epstein Files hanya berjarak beberapa hari setelah Trump batal menyerang Iran. Trump seolah-olah membuka negosiasi dengan Iran.
Sikap inilah yang tidak disukai siapa pun yang bekerja sama dengan Trump. Karena bagi Trump, sepertinya tidak ada musuh yang abadi, yang ada duit atau bisnis yang abadi. Siapa pun, kasus apa pun, jika bisa ‘menghasilkan’ akan diajak kerja sama.
Padahal, serangan terhadap Iran merupakan target utama Israel. Dan jangan lupa, sebanyak dua ratus lebih aktor perusuh yang kemungkinan agen Mossad sudah ditangkap pihak Iran setelah aksi kerusuhan di Iran berhasil dikendalikan.
Hal lain yang juga menjadi dendam kesumat Israel terhadap Iran adalah negeri Khameini ini telah mempermalukan reputasi Israel sebagai negara yang diklaim hebat dalam militer. Begitu banyak gedung di Tel Aviv hancur lebur oleh rudal canggih Iran. Tentu saja bersama korban-korban tewasnya yang hingga kini dirahasiakan Israel.
Dengan kata lain, di balik ledakan di Gaza dan viralnya Epstein Files merupakan ungkapan kesal Israel yang keubun-ubun terhadap Trump. Kok bisa, masalah seserius itu dibarter dengan negosiasi ‘basah’ oleh Trump? Seperti itulah kira-kira yang kini dirasakan Israel.
Namun jangan salah, pihak Trump juga bukan pemain amatiran. Mereka kemungkinan juga akan membuyarkan sasaran utama Epstein Files itu menjadi isu bobroknya para pemimpin dunia. Boleh jadi, termasuk ke para pemimpin negeri muslim. [Mh]





