MENJELANG bulan suci Ramadhan, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menggelar talkshow bertajuk Z-Talk: Zakat Menguatkan Indonesia pada Senin (2/2/2026).
Kegiatan ini mempertemukan pengelola zakat dan media nasional untuk membahas peran strategis zakat dalam memperkuat masyarakat dan negara.
Perwakilan BAZNAS, Rizaludin Kurniawan, menekankan bahwa zakat tidak hanya soal pemenuhan kewajiban, tetapi juga tentang nilai kemanusiaan dan manfaat sosial.
Mengutip hadis riwayat At-Thabrani, ia menyampaikan bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi sesama.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Menurutnya, fundraising zakat merupakan proses pertukaran nilai antara muzaki dan amil, di mana lembaga zakat harus mampu menghadirkan pelayanan, pengalaman, hingga perubahan positif bagi para donatur.
“Seorang muzaki harus sampai pada titik merasa menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Rizal juga menyoroti pentingnya penguatan sistem fundraising melalui komunikasi yang efektif, layanan prima, pemanfaatan kanal digital, serta pengelolaan basis data yang baik.
Ia memaparkan tujuh pilar fundraising BAZNAS, mulai dari literasi zakat, penguatan SDM amil, hingga branding dan reputasi lembaga.
BAZNAS RI Menggelar Z-Talk, Bahas Peran Zakat sebagai Penguat Indonesia
Baca juga: HUT ke-25, BAZNAS RI Syiarkan “Zakat Menguatkan Indonesia”
Sementara itu, Saidah Sakwan dari Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan Zakat BAZNAS menyampaikan bahwa perkembangan BAZNAS menunjukkan tren positif, seiring meningkatnya literasi dan kesadaran masyarakat.
Berbagai program prioritas terus dijalankan, antara lain Beasiswa BAZNAS, rumah layak huni, layanan kebencanaan, rumah sehat, pemberdayaan UMKM melalui Baznas Microfinance, ZMart, ZChicken, santripreneur, serta program pengentasan kemiskinan ekstrem dan stunting.
Dari perspektif media, Pemimpin Redaksi Kompas Amir Sodikin, menilai zakat sebagai instrumen penting dalam memperkuat ekonomi keluarga dan ketahanan negara, terutama saat krisis.
Senada, Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyiddin, menekankan bahwa media dan lembaga filantropi sama-sama berjuang membangun kepercayaan publik.
Ia menyoroti tantangan narasi zakat yang kerap kalah oleh isu politik dan sensasi, serta pentingnya pendekatan visual dan digital untuk menjangkau generasi muda.
Talkshow ini menegaskan zakat sebagai kekuatan sosial dan ekonomi. Ketika zakat mampu menguatkan umat, maka umat yang kuat akan berkontribusi pada Indonesia yang lebih berdaya.[Sdz]





