IRAN kini menjadi pusat isu dunia. Media Barat terus saja menyuguhkan ancaman Trump menyerang Iran. Apa di balik ancaman AS ini?
Dunia kini ketar-ketir. AS digambarkan seperti akan benar-benar menyerang Iran. Dan jika itu terjadi, dampaknya akan sangat luar biasa.
Mulai dari harga minyak dunia yang meroket, harga emas yang tak terkendali, anjloknya mata uang dunia, dan rentannya keamanan di kawasan Timur Tengah, khususnya wilayah teluk.
Pasca Rusuh Iran
Membaca konflik antara AS dan Iran adalah juga membaca peristiwa rusuh sekitar dua pekan di Iran. Alhasil, rusuh itu berlalu dan rezim Iran tetap eksis.
Tentang siapa di balik rusuh yang menewaskan ratusan orang ini, Iran menyebut bahwa CIA dan Mossad sebagai biang keroknya. Kesimpulan itu bukan asal sebut. Melainkan, melalui bukti-bukti investigasi, secara digital maupun di lapangan.
Rupanya, Iran sudah menyiapkan alat khusus untuk membaca pergerakan informasi secara digital antara para perusuh. Dan hal itu disebut Iran berlangsung melalui fasilitas internet ‘Starlink’.
Kesiapan alat Iran ini, selain membuntukan saluran komunikasi perusuh, juga memberikan peta tentang siapa saja aktor intelektualnya. Dan kini, semua mereka sudah ditangkap.
Donatur dan Target
Pasca rusuh Iran itu ternyata berbuntut panjang. Hal ini wajar. Sebagai negara berdaulat, Iran dan mungkin negara mana pun akan mengusut lebih tuntas keterkaitan pihak-pihak luar di balik peristiwa yang nyaris menggulingkan sebuah rezim yang berkuasa.
Jadi kalau tentang target, rusuh berhari-hari itu sudah jelas menargetkan rezim Iran yang kini berkuasa. Bahkan, di tengah rusuh itu, mereka sudah menyodorkan para pengganti rezim yang tidak lain adalah para penguasa lama Iran yang kini entah berada di negara mana.
Bagaimana tentang donatur?
Kajian ini begitu menarik. Karena di balik skenario rusuh tentu ada pihak-pihak yang diuntungkan. Terlebih lagi jika rezim yang digoyang jatuh.
Kalau Iran menyebut CIA dan Mossad, tentu itu wujud fisiknya. Tapi, bagaimana dengan wujud non fisiknya, seperti tentang pendanaan. Karena operasi militer atau apa pun, akan membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Membaca peta ini, memang tidak mudah. Sulit membaca pergerakan keuangan khusus dari satu pihak ke pihak yang disebut Iran sebagai CIA dan Mossad.
Apakah tidak mungkin jika AS dan Israel yang mendanai operasi ini? Tentu saja sangat mungkin. Karena keduanya bukan negara miskin.
Namun, siapa yang tak kenal Trump? Sosok ini bukan saja culas, tapi begitu rakus. Dia begitu seenaknya mengambil alih minyak Venezuela dengan menculik sang presiden yang berkuasa.
Trump juga begitu culasnya mengklaim Greenland sebagai aset AS, padahal negara yang ia ancam di wilayah itu adalah sekutunya sendiri: Denmark dan Uni Eropa. Dan boleh jadi, hal itu pula yang ia lakukan terhadap Ukraina dengan Rusia.
Begitu pun tentang Board of Peace ‘New Gaza’. Belum apa-apa, orang sudah disuruh membayar uang tunai.
Jika memahami karakter rakus ini, rasanya tak mungkin Trump mau membiayai serangan terhadap Iran, melalui rusuh atau pun senjata. Hampir bisa dipastikan, ia akan memaksa ‘jajahannya’ di wilayah Timur Tengah untuk ikut serta. Ya, siapa lagi kalau bukan negara-negara Arab petro dolar.
Bukankah dengan tumbangnya rezim Iran akan membuka pintu politik, bisnis, dan keamanan di wilayah yang selama ini dikuasai rezim Iran, seperti Yaman dan lainnya. Termasuk wilayah Iran itu sendiri yang memiliki cadangan minyak terbesar ketiga di dunia setelah Venezuela dan Saudi.
Untuk melihat aliran yang berpotensi tentang pendanaan ini, silakan bisa dicermati ‘pergerakan’ Trump selama beberapa bulan terakhir. Antara lain, pada 14 Mei Trump mengunjungi Uni Emirat Arab, pada 24 September ia berada di Qatar, dan pada 18 November MBS mendatangkan ‘investasi’ ke Trump.
Tentu hal ini hanya dugaan. Tapi yang jelas, Trump rasanya tidak akan ‘melewatkan’ negara-negara petro dolar itu dari pendanaan operasi besarnya.
Boleh jadi, bacaan ini pula yang telah dicermati pihak Iran. Dan hal itu mungkin wajar, karena pangkalan militer AS ada di tiga wilayah itu: UEA, Qatar, dan Saudi.
Umpan Berbahaya Trump untuk Umat Islam
Ada hal menarik dari kunjungan Menhan Saudi, Khalid bin Salman, ke Washington beberapa hari lalu. Tiba-tiba, pembicaraan rahasia mereka bocor ke wartawan. Bahkan Reuter memuat kolom analisis tentang isu pembicaraan mereka.
Yaitu, seperti yang dimuat banyak media, bahwa pihak Saudi memberikan lampu hijau kepada AS untuk menyerang Iran. Padahal sebelumnya, pangeran Muhammad bin Salman melarang wilayahnya dilalui militer AS untuk menyerang Iran.
Inilah umpan berbahaya AS untuk Iran dan sekaligus akan berdampak besar terhadap umat Islam di dunia.
Bocoran ini seperti memberikan stempel bahwa negara-negara tetangga Iranlah yang juga ikut memberikan andil besar untuk pelengseran rezim Iran.
Bayangkan jika Iran termakan umpan itu, dan mudah-mudahan tidak, maka Iran akan melakukan serangan kepada Saudi untuk melakukan pembalasan. Dan selama ini, bisa dibilang, Iran seperti menahan diri untuk tidak menyerang Saudi meskipun wilayah syiah Yaman dibombardir Saudi.
Jika Iran termakan umpan AS ini, maka akan terjadi kekacauan besar di dunia Islam. Di mana, akan terjadi potensi perang sipil antara Sunni dan Syiah. Sekali lagi, semoga ini tidak terjadi.
Pihak yang paling diuntungkan dari skenario berbahaya ini adalah Israel. Dengan begitu, Israel akan dengan mudah menguasai negeri-negeri Islam yang porak poranda dengan perang saudara. [Mh]





