AL-QUR’AN menerangi hati seseorang yang memahaminya. Jadikanlah Al-Qur’an ‘hidup’ dalam hati dan amal kita.
Di masa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam banyak yang tergolong pakar dalam Al-Qur’an. Nabi menyebutnya empat orang: Abdullah bin Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Salim maula Abu Khuzaifah, dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhum.
Namun begitu, Ubay bin Ka’ab punya kenangan khusus dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal Al-Qur’an.
Selain sebagai salah satu sahabat yang ditugaskan Rasulullah untuk mencatat wahyu, Ubay bin Ka’ab pernah diajak bicara khusus dengan Rasulullah tentang Al-Qur’an.
Rasulullah mengatakan kepada Ka’ab, Allah subhanahu wata’ala menyuruhku untuk membacakan ‘lam yakunilladziina kafaru…’ kepadamu.
Ubay bertanya, “Ya Rasulullah, apakah Allah menyebut namaku kepadamu?”
Rasulullah menjawab, “Ya!”
Ubay bin Ka’ab pun menangis karena begitu haru.
Di masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq diangkat beberapa orang ahli untuk memberikan masukan. Mereka adalah Umar bin Khaththab, Abdurrahman bin Auf, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal, dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhum.
Tim ahli ini juga tetap dipertahankan di masa Kekhalifahan Umar bin Khaththab.
Suatu kali, di masa Umar bin Khaththab sebagai khalifah, beliau menghidupkan kembali shalat tarawih berjamaah yang tidak lagi dilakukan di masa Rasulullah dan Khalifah Abu Bakar.
Umar bin Khaththab langsung mengangkat Ubay bin Ka’ab sebagai imam utama. Dan wakilnya adalah Tamim Ad-Dari.
Sebegitu dekatnya interaksi dengan Al-Qur’an, selain hafal, Ubay bin Ka’ab juga punya mushaf yang ia susun sendiri selama ditugaskan Nabi sebagai pencatat wahyu.
Berbeda dengan Zaid bin Tsabit yang di masa Rasulullah masih tergolong muda, Ubay bin Ka’ab sudah cukup senior. Ia bahkan mengikuti semua perang di masa Nabi. Mulai dari Perang Badar, Uhud, Khandaq, Khaibar, Tabuk, Fathul Mekkah, dan seterusnya.
Ubay bin Ka’ab wafat pada tahun 29 hijriyah, di masa Kekhalifahan Usman bin Affan.
**
Mampu menghafal Al-Qur’an memang luar biasa. Dan akan lebih istimewa lagi jika Al-Qur’an ‘hidup’ dan menerangi hati seseorang. Kelak di hari Kiamat, Al-Qur’an akan datang ke orang itu untuk memberikan syafa’at.
Cobalah lebih dekat lagi berinteraksi dengan Al-Qur’an: baca, hafal, pahami, dan amalkan semampu kita.
Jangan-jangan, bukan kita yang tak mau dekat dengan Al-Qur’an. Tapi Al-Qur’an yang tidak akan menjadi syafa’at untuk kita. [Mh]




