ULAMA tak identik dengan usianya yang tua. Bahkan, anak muda dua puluhan tahun pun bisa menjadi ulama hebat.
Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ada seorang sahabat yang dijuluki ‘Sayyidul Ulama’ atau pemimpinnya para ulama. Usianya saat itu baru dua puluhan tahun. Ia bernama Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu.
Mu’adz lahir di Madinah sekitar 20 tahun sebelum Rasulullah hijrah. Meski usianya masih begitu muda, kefakihannya di atas rata-rata para sahabat saat itu.
Tidak heran jika Mu’adz diutus Rasulullah ke Yaman sebagai duta pertama Islam. Di sana, beliau menjadi ulama yang mengajarkan umat tentang Islam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada Mu’adz, “Wahai Mu’adz, dengan apa engkau akan memutuskan suatu perkara?”
Mu’adz menjawab, “Dengan Kitab Allah!”
Rasul bertanya lagi, “Jika tidak engkau temukan di Kitab Allah?”
Mu’adz menjawab, “Dengan sunnah Rasulullah.”
Rasul bertanya lagi, “Jika tidak engkau temukan di sunnah Rasulullah?”
Mu’adz menjawab, “Aku akan berusaha maksimal untuk berijtihad dengan pendapatku.”
Mendengar jawaban itu, wajah Rasulullah berseri-seri. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Alhamdulillah yang telah memberikan petunjuk kepada utusan Rasulullah terhadap sesuatu yang membuat Rasulullah ridha.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah memuji Mu’adz dengan mengatakan bahwa Mu’adz sebagai manusia yang paling paham tentang halal dan haram.
Di masa Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, sosok Mu’adz selalu menjadi tempat rujukan. Umar pernah mengatakan, “Kalau tidak karena nasihat Mu’adz, mungkin Umar sudah celaka!”
Seorang tabi’in mengisahkan ketika ia berada pertama kali di sebuah masjid di masa Khalifah Umar bin Khaththab. Ia melihat sosok seorang pemuda yang tampan, gagah, dan selalu diam di tengah para sahabat yang berbicara.
Pemuda itu baru bicara ketika ditanya. Dan ketika ia berbicara, semua orang yang hadir akan menyimak. Dan sosok itu adalah Mu’adz bin Jabal.
Ketika akan dilakukan penaklukan wilayah Romawi di Syam, panglima saat itu, Abu Ubaidah bin Jarrah radhiyallahu ‘anhu mengutus Mu’adz sebagai duta. Ia akan menjelaskan segala hal tentang Islam kepada para petinggi Romawi saat itu.
Sebelum duta Islam itu tiba, Romawi menyiapkan segalanya. Mulai dari hiasan di sepanjang jalan yang akan dilewati duta, gadis-gadis cantik yang menyambut kedatangan sang duta, hingga sebuah singgasana yang khusus tempat duduk sang duta Islam itu.
Setibanya Mu’adz di sana, ia menolak semua perlakuan khusus itu. Bahkan, ia lebih memilih duduk di lantai ketika pembesar Romawi mempersilakannya duduk di sebuah singgasana.
“Saya hanya seorang hamba Allah. Tak ada yang istimewa dari saya!” ucapnya sambil memilih duduk di lantai.
Karena Mu’adz duduk di lantai, maka para pembesar Romawi pun akhirnya ikut duduk di lantai. Mereka pun menanyakan sikap Islam tentang Yesus.
Mu’adz menjawab pertanyaan itu dengan membacakan firman Allah, Surah Ali Imran ayat 59: sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah sama seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: jadilah (seorang manusia), maka jadilah ia.”
Semua pembesar Romawi yang hadir saat itu begitu tertarik. Mereka pun menanyakan hal-hal lainnya kepada Mu’adz.
Allah berkehendak lain. Orang sefakih Mu’adz wafat di usia yang sangat belia: 33 tahun. Ia wafat bersama dengan pasukan Islam yang dipimpin Abu Ubaidah di Syam. Semuanya syahid dalam peristiwa wabah thaun yang mewabah hebat di Suriah saat itu.
Khalifah Umar bin Khaththab mengatakan, “Sekiranya Mu’adz masih hidup, maka aku akan menunjuk Mu’adz sebagai penggantiku.”
**
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah menganugerahkannya kefakihan dalam agama.”
Ulama itu bukan sekadar penguasaan ilmu. Tapi juga menyatunya ilmu, hikmah, adab, dan ketakwaan dalam diri seseorang. Meskipun usianya masih muda. [Mh]




