SETAN tak akan pernah diam untuk menyesatkan manusia. Dan, mereka sangat memusuhi tokoh dan umat Islam.
Pasukan kafir Quraisy di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tak menyadari kalau raja setan, Iblis, ikut masuk ke barisan mereka.
Hal itu terjadi di saat-saat genting ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan berhijrah ke Madinah. Hal ketika tokoh-tokoh kafir Quraisy bingung harus berbuat apa.
Ada sosok orang tua bijak yang mengaku dari Najed memberi nasihat ke mereka. Inilah sosok Iblis yang menyerupai manusia di saat itu.
Nasihatnya begitu hebat: cari perwakilan pemuda-pemuda dari setiap suku di Quraisy untuk membunuh Muhammad di rumahnya. Dengan begitu, sukunya Nabi Muhammad yaitu Bani Hasyim tak bisa menuntut balas.
Ternyata Allah menggagalkan makar mereka. Sebelum mereka menyergap rumah Nabi, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sudah keluar, tanpa seorang pun dari para pengepung itu yang lihat. Termasuk, sosok iblis yang menyamar.
Ketika penyergapan terjadi, mereka hanya menjumpai seorang anak remaja yang menggantikan sosok Nabi di kamarnya. Ia adalah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang saat itu usianya sekitar 18 tahun. Syukurnya mereka tidak menganiaya Ali.
Perwujudan iblis yang kedua, ketika terjadi Perang Badar. Sebuah perang pertama yang menjadi penentu eksistensi umat Islam.
Saat itu, iblis menyerupai seorang tokoh bernama Suraqah bin Malik. Orang ini dikenal begitu hebat dalam menyusup dan mampu membunuh lawan dari arah yang tak terduga.
Sebelum perang dimulai, Suraqah jelmaan iblis memberikan semangat ke pasukan kafir Quraisy.
“Kalian tak akan bisa dikalahkan!” begitu teriaknya memberikan semangat yang berapi-api.
Tapi ketika dua pasukan itu saling berhadapan, tiba-tiba Suraqah memperlihatkan gelagat akan kabur dari barisan. Hal ini karena Malaikat Jibril yang ada di barisan umat Islam melangkah menghampiri iblis.
Seorang pasukan Quraisy sempat memegangi tangan Suraqah sambil menanyakan, “Kamu mau kabur, ya?”
Suraqah dengan wajah pucat pasi mengatakan, “Aku melihat sesuatu yang kalian tak bisa lihat. Aku takut dengan azab Allah yang berat!”
Suraqah pun lari terbirit-birit. Sebuah kisah menyebutkan kalau ia lari sejauh mungkin dan menceburkan diri ke laut terdekat.
**
Iblis dan setan tak akan pernah istirahat. Tak pernah bosan dan kapok. Tak pernah mati cara. Sampai hari Kiamat. Sampai tokoh dan umat Islam jatuh ‘berguguran’.
Kalau tak mampu melumpuhkan dengan cara kasar, dilakukan dengan cara halus. Salah satunya dengan rayuan: rasanya tak ada orang sehebat Anda! Rasanya, tak ada hamba Allah yang ibadah dan sedekahnya sedahsyat Anda! Anda sangat patut dapat pujian.
Saat itulah, seseorang ingin sekali ‘dibayar’ jerih payah ibadah dan sedekahnya bukan lagi dengan ikhlas mengharap raidha Allah. Tapi, hanya karena haus pujian. [Mh]





