SHOW ‘Mens Rea’ komika Pandji Pragiwaksono bisa dibilang sukses. Baik yang tonton langsung maupun yang via saluran televisi berbayar.
Suksesnya ternyata bukan hanya pada shownya. Melainkan juga pada ‘misi’nya di pentas politik dan hukum Indonesia.
Mens Rea ala Pandji ternyata menjadi sorotan utama. Publik yang awalnya tak merasa perlu untuk menonton, akhirnya tergiring untuk menyimak: apa gerangan yang sedang ‘dimainkan’ seorang Pandji.
Kemampuan Pandji ‘mengocok’ emosi para politisi dan pejabat di Mens Rea bisa dibilang sukses memancing reaksi. Bahkan, boleh jadi akan masuk ke ranah hukum.
Sebenarnya, apa sih yang diinginkan seorang Pandji melalui Mens Rea-nya? Mungkin sekadar hiburan dalam gaya yang tidak biasa. Tapi mungkin juga, sebagai ‘test the water’ tentang keadaan politik di era rezim saat ini.
Apa yang dihadirkan dalam Mens Rea ala Pandji sepertinya bukan olahan baru. Sudah biasa. Dan mestinya menjadi hal biasa di sepanjang rezim Orde Reformasi.
Yaitu tentang pejabat yang dikritik, keadaan yang dianggap memalukan di republik ini, hukum yang seperti porak-poranda, dan seterusnya.
Itu dengan asumsi masih di Orde Reformasi. Pertanyaannya, apakah saat ini masih di orde itu? Atau, jangan-jangan sudah kembali ke ‘yang lama’ atau ‘yang baru’? Nah, itulah yang ‘dijajal’ Pandji melalui show Mens Rea-nya yang luar biasa.
Mungkin, publik tak merasa perlu untuk menunggu jawaban dari yang ‘dipancing’ Pandji. Cukup menyimak reaksi-reaksinya saja.
Kalau olahan kritik yang dikemas hiburan saja sudah dianggap hal ‘serius’, apalagi kritik dalam wujud yang sebenarnya. Dari situlah sebagian orang mungkin akan mengatakan: selamat tinggai Orde Reformasi, selamat tinggal Demokrasi! [Mh]





