• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Selasa, 31 Maret, 2026
No Result
View All Result
FOKUS+
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Khazanah

Catatan Perjalanan dari Desa Gijduvan, Pusat Keramik Tradisional Uzbekistan

02/10/2023
in Khazanah, Unggulan
Catatan Perjalanan dari Desa Gijduvan, Pusat Keramik Tradisional Uzbekistan

ilustrasi: pixabay

123
SHARES
949
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

CATATAN perjalanan dari desa Gijduvan, Uzbekistan ini dibagikan oleh Uttiek M. Panji Astuti yang tengah melakukan perjalanan dari Samarkand ke Bukhara. Berikut cerita selengkapnya.

“Coba dengarkan suaranya. Ini adalah suara kebahagiaan,” katanya santun sambil menggerakkan cawan indah yang dipegangnya.

Terdengar suara lirih serupa dengan desau angin yang sangat indah. Semacam kolotok alias lonceng angin bambu yang ada di rumah-rumah tradisional Sunda.

Hati saya bergetar.

Bukan sekadar terpesona karena indahnya suara, tapi juga hangatnya tali persaudaraan yang diulurkan keluarga Narzullaev.

Alisher Narzullaev Aka terharu menerima buku Journey to Samarkand yang saya serahkan. Dilihatnya foto dirinya dan anaknya, juga istrinya yang sedang memanggang roti.

Alhamdulillah, hari ini Allah izinkan saya sampai di desa Gijduvan lagi. Sebuah desa yang berada di tengah perjalanan dari kota Samarkand ke Bukhara.

Keluarga Narzullaev ini istimewa. Mereka adalah keluarga pengrajin keramik sejak tujuh generasi sebelumnya. Secara turun temurun penduduk desa Gijduvan adalah para pengrajin keramik tradisional berkualitas tinggi.

Saat invasi Soviet, tempat-tempat pembuatan keramik tradisional seperti ini harus ditutup. Mereka harus alih profesi sesuai ketentuan pemerintah komunis. Ada yang dijadikan buruh tani dan sebagainya.

Keluarga Narzullaev bertahan dengan sembunyi-sembunyi. Mereka tetap memproduksi keramik, sekaligus menurunkan keahlian itu pada anak-anaknya.

Setelah Uzbekistan merdeka, usaha keluarga ini mendapat penghargaan dari Presiden Islam Karimov.

Banyak tokoh penting pernah berkunjung ke galerinya, seperti Hillary Clinton, hingga King Charles yang waktu itu masih pangeran.

“Saya akan pajang buku ini di museum saya sehingga siapapun yang datang akan melihat, saya punya sahabat di Indonesia,” katanya.

Segera saya minta Syahsod menerjemahkan, “Saya bukan sekadar sahabat, izinkan saya menjadi putri Aka yang berada di Indonesia.”

Saya melihat bulir halus di sudut mata Alisher Narzullaev Aka. Aka dalam bahasa Uzbekistan artinya Bapak.

Catatan Perjalanan dari Desa Gijduvan, Pusat Keramik Tradisional Uzbekistan

Baca juga: Uzbekistan Akhirnya Izinkan Jilbab di Sekolah

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Uttiek M Panji Astuti (@uttiek.herlambang)


Salah satu alasan saya memilih menulis catatan perjalanan untuk buku-buku saya, selain karena sangat terinspirasi dengan kitab Ar Rihlah yang ditulis Ibn Bathutah, bagi saya, buku catatan perjalanan bukanlah sekadar catatan perjalanan, namun juga catatan persaudaraan.

Saya bisa menuliskan kisah orang-orang yang saya temui di sepanjang perjalanan. Dari tulisan itu lalu terjalin tali persaudaraan.

Ketika Allah izinkan saya kembali bertemu dengan mereka, saya bisa tunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari buku-buku saya.

Pun dalam perjalanan bersama @muslimsafarproject kali ini. Allah perjalankan saya dengan orang-orang luar biasa, para pentadabur sejarah.

Ustaz @edgarhamas, adik yang sudah saya kenal sejak masih menjadi mahasiwa di Madinah. Tak hanya dirinya, saya juga mengenal semua keluarganya.

Oki @idahoriko dan Joice @joicesitawati owner @Muslimsafarproject yang bukan kebetulan adalah sahabat masa kecil saya.

Juga para peserta rombongan, seperti @berlianakimberley mahasiswa pascasarjana lucu yang membuat perjalanan menjadi seru, Bu @tantiyudiana yang sangat concern dengan lingkungan hidup.

@sanjar.indonesia dan keluarganya yang selalu menjadi keluarga istimewa bagi saya di negeri yang jauh ini.

Syahsod, mahasiswa jurusan bahasa Indonesia, murid Sanjar yang menjadi local guide penuh dedikasi.

Saking berdedikasinya, ia tak segan turun ke dapur restoran dan membantu menghidangkan makanan.

Menawarkan barang, yang terkadang sampai membuatnya malu, karena seperti umumnya ibu-ibu Indonesia yang suka “kejam” kalau menawar.

“Apakah Ibu menjadi dosen di Indonesia? Sepertinya saya harus mendaftar di universitas Ibu untuk belajar,” katanya polos yang membuat saya tertawa.

“Ini tentang sejarah peradaban Islam, Syahsod. Tentang connecting the dot. Bukan sekadar tentang negaramu.”

Perjalanan ini adalah perjalanan untuk menyusun keping-keping sejarah yang berserak. Menyusun puzzle-nya menjadi gambar yang lebih utuh.

Bagaimana cahaya hidayah itu berkelindan dengan cahaya ilmu pengetahuan. Mengambil hikmah dan mentadaburinya.

Saya akan terus menulis catatan perjalanan, karena ini adalah catatan persaudaraan.[ind]

Tags: Catatan Perjalanan dari Desa Gijduvan Uzbekistanuttiek m panji astuti
Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

NPC Dukung Pendidikan di Maluku Utara melalui Program ‘Sedia Cerdas’

Next Post

Tak Mampu Tampung Curah Hujan, New York Banjir Besar

Next Post
Tak Mampu Tampung Curah Hujan, New York Banjir Besar

Tak Mampu Tampung Curah Hujan, New York Banjir Besar

Tips Parenting Risty Tagor Bangun Bonding antara Tiga Anaknya

Tips Parenting Risty Tagor Bangun Bonding antara Tiga Anaknya

Alasan Laki-Laki Perlu Gunakan Sunscreen Menurut Dermatologist

Alasan Laki-Laki Perlu Gunakan Sunscreen Menurut Dermatologist

  • Bun, Yuk Kenali Gangguan Pencernaan pada 1.000 Hari Pertama Bayi

    124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    8122 shares
    Share 3249 Tweet 2031
  • Ayat Al-Qur’an tentang Traveling

    678 shares
    Share 271 Tweet 170
  • Doa Ibu yang Mengubah Nasib Anak

    3612 shares
    Share 1445 Tweet 903
  • Yang Berhak Memandikan Jenazah Ibu

    2979 shares
    Share 1192 Tweet 745
  • Untuk Pemula, Belajar Islam Mulai dari Mana?

    3140 shares
    Share 1256 Tweet 785
  • Penjelasan Ustaz Adi Hidayat tentang Hukum Shalat Sendiri di Rumah bagi Laki-Laki

    1962 shares
    Share 785 Tweet 491
  • Deli Serdang Punya Wisata Pantai Salju Paling Hits

    120 shares
    Share 48 Tweet 30
  • 25 Nama Bayi Laki-Laki Berawalan Huruf Z dalam Bahasa Arab

    856 shares
    Share 342 Tweet 214
  • Pertolongan Allah karena Memberi Makan Kucing

    449 shares
    Share 180 Tweet 112
  • Mandi Junub Menggunakan Shower

    5061 shares
    Share 2024 Tweet 1265
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga