• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Senin, 26 Oktober, 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Khazanah

Catatan Perjalanan dari Desa Gijduvan, Pusat Keramik Tradisional Uzbekistan

02/10/2023
in Khazanah, Unggulan
Catatan Perjalanan dari Desa Gijduvan, Pusat Keramik Tradisional Uzbekistan

ilustrasi: pixabay

130
SHARES
999
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

CATATAN perjalanan dari desa Gijduvan, Uzbekistan ini dibagikan oleh Uttiek M. Panji Astuti yang tengah melakukan perjalanan dari Samarkand ke Bukhara. Berikut cerita selengkapnya.

“Coba dengarkan suaranya. Ini adalah suara kebahagiaan,” katanya santun sambil menggerakkan cawan indah yang dipegangnya.

Terdengar suara lirih serupa dengan desau angin yang sangat indah. Semacam kolotok alias lonceng angin bambu yang ada di rumah-rumah tradisional Sunda.

Hati saya bergetar.

Bukan sekadar terpesona karena indahnya suara, tapi juga hangatnya tali persaudaraan yang diulurkan keluarga Narzullaev.

Alisher Narzullaev Aka terharu menerima buku Journey to Samarkand yang saya serahkan. Dilihatnya foto dirinya dan anaknya, juga istrinya yang sedang memanggang roti.

Alhamdulillah, hari ini Allah izinkan saya sampai di desa Gijduvan lagi. Sebuah desa yang berada di tengah perjalanan dari kota Samarkand ke Bukhara.

Keluarga Narzullaev ini istimewa. Mereka adalah keluarga pengrajin keramik sejak tujuh generasi sebelumnya. Secara turun temurun penduduk desa Gijduvan adalah para pengrajin keramik tradisional berkualitas tinggi.

Saat invasi Soviet, tempat-tempat pembuatan keramik tradisional seperti ini harus ditutup. Mereka harus alih profesi sesuai ketentuan pemerintah komunis. Ada yang dijadikan buruh tani dan sebagainya.

Keluarga Narzullaev bertahan dengan sembunyi-sembunyi. Mereka tetap memproduksi keramik, sekaligus menurunkan keahlian itu pada anak-anaknya.

Setelah Uzbekistan merdeka, usaha keluarga ini mendapat penghargaan dari Presiden Islam Karimov.

Banyak tokoh penting pernah berkunjung ke galerinya, seperti Hillary Clinton, hingga King Charles yang waktu itu masih pangeran.

“Saya akan pajang buku ini di museum saya sehingga siapapun yang datang akan melihat, saya punya sahabat di Indonesia,” katanya.

Segera saya minta Syahsod menerjemahkan, “Saya bukan sekadar sahabat, izinkan saya menjadi putri Aka yang berada di Indonesia.”

Saya melihat bulir halus di sudut mata Alisher Narzullaev Aka. Aka dalam bahasa Uzbekistan artinya Bapak.

Catatan Perjalanan dari Desa Gijduvan, Pusat Keramik Tradisional Uzbekistan

Baca juga: Uzbekistan Akhirnya Izinkan Jilbab di Sekolah

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Uttiek M Panji Astuti (@uttiek.herlambang)


Salah satu alasan saya memilih menulis catatan perjalanan untuk buku-buku saya, selain karena sangat terinspirasi dengan kitab Ar Rihlah yang ditulis Ibn Bathutah, bagi saya, buku catatan perjalanan bukanlah sekadar catatan perjalanan, namun juga catatan persaudaraan.

Saya bisa menuliskan kisah orang-orang yang saya temui di sepanjang perjalanan. Dari tulisan itu lalu terjalin tali persaudaraan.

Ketika Allah izinkan saya kembali bertemu dengan mereka, saya bisa tunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari buku-buku saya.

Pun dalam perjalanan bersama @muslimsafarproject kali ini. Allah perjalankan saya dengan orang-orang luar biasa, para pentadabur sejarah.

Ustaz @edgarhamas, adik yang sudah saya kenal sejak masih menjadi mahasiwa di Madinah. Tak hanya dirinya, saya juga mengenal semua keluarganya.

Oki @idahoriko dan Joice @joicesitawati owner @Muslimsafarproject yang bukan kebetulan adalah sahabat masa kecil saya.

Juga para peserta rombongan, seperti @berlianakimberley mahasiswa pascasarjana lucu yang membuat perjalanan menjadi seru, Bu @tantiyudiana yang sangat concern dengan lingkungan hidup.

@sanjar.indonesia dan keluarganya yang selalu menjadi keluarga istimewa bagi saya di negeri yang jauh ini.

Syahsod, mahasiswa jurusan bahasa Indonesia, murid Sanjar yang menjadi local guide penuh dedikasi.

Saking berdedikasinya, ia tak segan turun ke dapur restoran dan membantu menghidangkan makanan.

Menawarkan barang, yang terkadang sampai membuatnya malu, karena seperti umumnya ibu-ibu Indonesia yang suka “kejam” kalau menawar.

“Apakah Ibu menjadi dosen di Indonesia? Sepertinya saya harus mendaftar di universitas Ibu untuk belajar,” katanya polos yang membuat saya tertawa.

“Ini tentang sejarah peradaban Islam, Syahsod. Tentang connecting the dot. Bukan sekadar tentang negaramu.”

Perjalanan ini adalah perjalanan untuk menyusun keping-keping sejarah yang berserak. Menyusun puzzle-nya menjadi gambar yang lebih utuh.

Bagaimana cahaya hidayah itu berkelindan dengan cahaya ilmu pengetahuan. Mengambil hikmah dan mentadaburinya.

Saya akan terus menulis catatan perjalanan, karena ini adalah catatan persaudaraan.[ind]

Tags: Catatan Perjalanan dari Desa Gijduvan Uzbekistanuttiek m panji astuti
Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

NPC Dukung Pendidikan di Maluku Utara melalui Program ‘Sedia Cerdas’

Next Post

Tak Mampu Tampung Curah Hujan, New York Banjir Besar

Next Post
Tak Mampu Tampung Curah Hujan, New York Banjir Besar

Tak Mampu Tampung Curah Hujan, New York Banjir Besar

Tips Parenting Risty Tagor Bangun Bonding antara Tiga Anaknya

Tips Parenting Risty Tagor Bangun Bonding antara Tiga Anaknya

Alasan Laki-Laki Perlu Gunakan Sunscreen Menurut Dermatologist

Alasan Laki-Laki Perlu Gunakan Sunscreen Menurut Dermatologist

  • Rekor Rekor MURI Terpecahkan, IKADI Gelar Pelatihan 10.000 Khatib Serentak dan Terbesar di Indonesia

    Rekor MURI Terpecahkan, IKADI Gelar Pelatihan 10.000 Khatib Serentak dan Terbesar di Indonesia

    127 shares
    Share 51 Tweet 32
  • 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    9607 shares
    Share 3843 Tweet 2402
  • Ayat Al-Qur’an tentang Traveling

    1401 shares
    Share 560 Tweet 350
  • Doa Rabithah dan Keutamaan Membacanya

    2559 shares
    Share 1024 Tweet 640
  • MUI Rilis Fatwa Ibadah Puasa dan Idul Fitri

    102 shares
    Share 41 Tweet 26
  • Bacaan Dzikir Pagi Sesuai Ajaran Rasulullah

    318 shares
    Share 127 Tweet 80
  • Anis Byarwati Kunjungi Dua Titik Pengungsian di Jakarta Timur

    92 shares
    Share 37 Tweet 23
  • Freedom, Film Dokumenter tentang Perjalanan Spiritual 50 Mualaf Dunia

    111 shares
    Share 44 Tweet 28
  • Doa untuk Palestina Lengkap beserta Artinya

    2490 shares
    Share 996 Tweet 623
  • Alaska Tawarkan Turis Vaksin Covid-19 Mulai 1 Juni

    110 shares
    Share 44 Tweet 28
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga