SHALAT adalah ibadah yang paling mulia setelah syahadat. Ia menjadi penghubung antara seorang hamba dengan Allah, tempat mencurahkan doa, harapan, dan rasa syukur. Namun, Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat tegas bahwa tidak semua orang yang shalat otomatis memperoleh kemuliaan. Ada golongan yang justru diancam dengan kecelakaan karena lalai terhadap shalatnya dan gemar berbuat riya.
Baca Juga: Tips Menghilangkan Bau pada Rebung Sebelum Diolah Menjadi Masakan
Muhasabah Niat Agar Ibadah Terjaga dari Riya
Allah SWT berfirman:
“Celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya.” (QS. Al-Ma’un: 4–6)
Ayat ini mengajarkan bahwa yang dinilai Allah bukan sekadar gerakan lahiriah, tetapi juga keadaan hati. Seseorang bisa saja rajin datang ke masjid, memperpanjang doa, atau tampak khusyuk di hadapan manusia, tetapi jika niatnya ingin dipuji dan mendapatkan pengakuan, maka amal tersebut kehilangan nilai di sisi Allah.
Riya termasuk penyakit hati yang sangat halus. Ia sering datang tanpa disadari. Awalnya seseorang beribadah karena Allah, tetapi ketika melihat ada orang lain memperhatikan, muncul keinginan agar dianggap saleh. Kadang riya juga hadir dalam bentuk yang lebih lembut, seperti merasa senang jika amal kita dipuji atau kecewa ketika kebaikan tidak diketahui orang lain.
Karena itu, para ulama menyebut riya sebagai ujian yang terus menyertai orang beriman. Obatnya bukan berhenti beramal karena takut riya, melainkan terus memperbaiki niat sebelum, saat, dan setelah melakukan ibadah. Setiap kali hati mulai condong kepada pujian manusia, ingatlah bahwa yang paling berhak menerima seluruh amal kita hanyalah Allah.
Muhasabah menjadi langkah penting untuk menjaga keikhlasan. Luangkan waktu sejenak setiap hari dan tanyakan kepada diri sendiri, “Mengapa aku melakukan amal ini? Apakah benar karena Allah, atau ada keinginan agar dipandang baik oleh manusia?” Pertanyaan sederhana itu dapat menjadi benteng agar hati tetap lurus.
Keikhlasan memang tidak terlihat oleh mata manusia. Tidak ada seorang pun yang mampu memastikan niat orang lain. Justru karena itulah kita diperintahkan sibuk memperbaiki hati sendiri, bukan menghakimi ibadah orang lain. Bisa jadi seseorang yang amalnya tampak biasa justru memiliki keikhlasan yang luar biasa di sisi Allah.
Menjaga niat juga berarti tidak menjadikan media sosial sebagai ukuran nilai ibadah. Tidak semua amal harus dipublikasikan. Ada kalanya sedekah, tahajud, zikir, dan air mata dalam doa menjadi lebih indah ketika hanya Allah yang mengetahuinya. Amal yang tersembunyi sering kali lebih aman dari godaan riya dan lebih dekat kepada keikhlasan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Semoga Allah membersihkan hati kita dari keinginan mencari pujian manusia. Semoga setiap sujud, sedekah, dan kebaikan yang kita lakukan benar-benar lahir karena mengharap ridha-Nya. Sebab pada hari ketika seluruh amal ditimbang, yang paling berharga bukanlah banyaknya sanjungan manusia, melainkan keikhlasan yang tersimpan di dalam hati. [DW]





