BEBERAPA kasus dalam kehidupan sehari-hari banyak terjadi, seseorang yang rajin ibadah seperti misalnya tidak pernah meninggalkan sholat, selalu membaca Al-Qur’an, bahkan rajin berpuasa Sunnah, namun disisi lain masih melakukan kemaksiatan seperti tidak jujur, suka berdusta, mencuri, berakhlak buruk, atau memiliki kecemasan yang berlebihan, tempramen dan mudah marah, terkadang berprilaku buruk yang bertolak belakang dengan ciri ahli ibadah.
Ada beberapa penyebab terjadinya antara ibadah yang dilakukan tidak berdampak kepada akhlak dan prilaku seseorang, diantaranya Ibadah yang dilakukan selama ini hanya sebatas kebiasaan yang telah menjadi rutinitas tanpa diiringi dengan ilmu dan pemahaman. Bahwa ibadah yang dilakukan sebenarnya berbanding lurus dengan akhlak dan sikap dalam keseharian. Misalnya kewajiban sholat. Dalam surat al Ankabut ayat 45 :
إِنَّ الصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ ۗ
Artinya: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.”
Mestinya jika seseorang telah melakukan sholat dengan baik dan benar, dia akan terhindar dari semua bentuk kejahatan dan kemungkaran. Ada yang keliru ketika perbuatan kemungkaran masih dilakukan sementara sholat tidak pernah ditinggalkan.
Baca Juga: Bahaya Bersikap Arogan bagi Para Orang Tua
Menganggap Ibadah Hanya Sebagai Rutinitas, Apa Dampaknya?
Artinya sholat yang dilakukan hanya sekedar menunaikan kewajiban yang telah menjadi kebiasaan tanpa diiringi dengan ilmu dan pemahaman bahwa di dalam sholat terkandung peringatan tentang pengawasan Allah. Orang yang merasa diawasi Allah tidak mungkin melakukan perbuatan buruk dan mungkar.
Bisa juga dampak dari ibadah yang dilakukan selama ini menjadi pencegah dari gangguan kecemasan yang berpengaruh pada sikap dan prilaku sehari-hari. Paling tidak dengan ibadah yang telah biasa dilakukan dapat meminimalisir gangguan kecemasan yang lebih parah.
Pada dasarnya gangguan kecemasan merupakan salah satu gangguan mental yang serius. Kondisi ini dapat disebabkan oleh adanya masalah pada fungsi otak yang mengatur rasa takut dan emosi. Kecemasan memiliki tingkatan-tingkatan, ada yang normal dan menyimpang.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Ketika gangguan kecemasan yang dialami oleh istri anda tidak dapat dikendalikan, berlebihan dan diluar akal sehat, ada baiknya anda membawa istri untuk berkonsultasi ke psikolog atau psikiater. Mudah-mudahan gangguan kecemasan yang dapat menghambat aktifitas sehari-hari dapat diatasi insya Allah. [DW]
Sumber: Ditulis oleh Ustadzah: Herlini Amran, M.A dalam grup telegram Majelis_MANIS