SEMUA pernah dihadapkan pada masa ketika kita merasa hidup begitu berat. Sesuatu yang diharapkan tidak kunjung datang, orang yang disayangi justru pergi, atau rencana yang sudah disusun dengan baik tiba-tiba berantakan. Pada saat seperti itu, menangis menjadi hal yang sulit ditahan. Dalam hati mungkin muncul pertanyaan, mengapa Allah membiarkan semua ini terjadi?
Kadang kita mengira kesulitan adalah tanda bahwa Allah sedang menjauh. Kita merasa doa belum dikabulkan, rezeki seperti tertahan, hubungan yang diharapkan tidak berjalan sesuai keinginan, lalu hati mulai menyimpulkan bahwa Allah tidak sayang kepada kita. Padahal, belum tentu demikian.
Baca Juga: Vitamin D Bisa Memperlambat Proses Penuaan Biologis pada Manusia
Ketika Kehilangan Menjadi Cara Allah Menjaga Hati
Bisa jadi selama ini kita terlalu mencintai sesuatu yang sebenarnya hanya dititipkan oleh Allah. Kita begitu takut kehilangan pekerjaan, pasangan, harta, jabatan, popularitas, atau kenyamanan hidup. Tanpa sadar, sesuatu yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan justru menempati tempat yang terlalu besar di dalam hati.
Ketika sesuatu itu kemudian hilang, rasanya seperti dunia sedang runtuh.
Namun, kehilangan tidak selalu berarti hukuman. Ada kalanya kehilangan menjadi cara Allah mengajarkan kita tentang arti melepaskan. Apa yang kita anggap baik belum tentu baik untuk kehidupan kita. Sebaliknya, sesuatu yang terasa menyakitkan mungkin membawa pelajaran yang baru bisa dipahami setelah waktu berlalu.
Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Kita hanya melihat kejadian hari ini, sementara Allah mengetahui apa yang akan terjadi setelahnya.
Karena itu, ketika mengalami kekecewaan, bukan berarti kita tidak boleh menangis. Menangis adalah bagian dari manusia. Kita boleh merasa sedih, kecewa dan lelah. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kesedihan membuat kita berburuk sangka kepada Allah.
Mungkin ada sesuatu yang sedang Allah jauhkan karena Dia tahu kita akan terlalu terluka jika terus menggenggamnya. Mungkin ada jalan yang ditutup karena di depan sana terdapat sesuatu yang tidak baik bagi kita. Mungkin pula hati kita sedang diajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang benar-benar menjadi milik kita selamanya.
Semua hanya titipan.
Orang yang kita sayangi bisa pergi. Harta bisa berkurang. Pekerjaan bisa berubah. Rencana bisa gagal. Bahkan kesehatan dan usia pun memiliki batas. Karena itu, mencintai dunia boleh, tetapi jangan sampai kecintaan tersebut membuat kita lupa kepada pemilik segala sesuatu.
Saat kehilangan datang, cobalah perlahan mengembalikan hati kepada Allah. Katakan dalam doa bahwa kita tidak memahami semua rencana-Nya, tetapi kita percaya bahwa Allah tidak pernah salah dalam menentukan takdir.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Sebab bisa jadi, sesuatu yang hari ini membuat kita menangis justru sedang menjadi jalan agar hati kita kembali pulang kepada-Nya. [DW]
Sumber: Ustadzah Halimah Alaydrus





