MENTERI Agama (Menag) bersama Prof. Abbas Shouman tengah membahas penambahan kuota mahasiswa.
Tak hanya itu, Menag dan Sekretaris Jenderal Dewan Ulama Senior Al-Azhar yaitu Prof. Abbas Shouman juga membahas pernguatan sama kedua belah pihak, antara lain dalam pengembangan Bahasa Arab, penambahan kuota mahasiswa, peluang pembelajaran jarak jauh (e-learning), serta diplomasi keagamaan.
Menag menuturkan bahwa saat ini jumlah ulama di Indonesia masih relatif sedikit dibandingkan jumlah penduduknya, demikian juga fasilitas dalam pembelajaran keagamaan Islam juga masih terbatas.
Menag juga menegaskan pemahaman bahasa Arab sebagai fondasi utama dalam memahami ilmu-ilmu keislaman merupakan suatu keniscayaan yang harus dimiliki oleh para calon ulama di Indonesia.
Menag memaparkan bahwa dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,6%, salah satu yang tertinggi di antara negara-negara G20 dari sisi pendanaan kerja sama tidak ada masalah.
Namun, terdapat tantangan regulasi di mana Mesir tidak mengizinkan pendirian cabang Universitas Al-Azhar di luar negeri.
Baca juga: Kemenag Berupaya Meningkatkan Kesejahteraan Guru Pendidikan Agama
Menag Bersama Prof. Abbas Shouman Bahas Penambahan Kuota Mahasiswa
Di sisi lain, Mesir tetap menjadi tujuan utama masyarakat Indonesia untuk menimba ilmu karena faktor stabilitas keamanan.
Oleh karena itu, Menag berharap Al-Azhar dapat memperluas kerja sama melalui skema pendidikan jarak jauh dengan menyiapkan infrastruktur dan pembiayaan dari pihak Indonesia, atau dengan memperbanyak kuota penerimaan mahasiswa Indonesia di Al-Azhar serta menambah utusan pengajar (mab’uts).
Prof. Abbas Shouman sepakat bahwa tantangan rasio antara jumlah penduduk muslim yang besar dengan ketersediaan infrastruktur pendidikan yang memadai perlu segera diatasi melalui perluasan cakupan kerja sama.
Prof. Abbas memaparkan bahwa Al-Azhar membuka peluang sistem pembelajaran jarak jauh melalui skema hybrid.
Mahasiswa dapat menempuh pendidikan selama dua tahun pertama di negara asal, dilanjutkan dua tahun berikutnya langsung di Kairo, Mesir, dengan ijazah resmi yang setara dengan mahasiswa reguler empat tahun.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Di samping itu, terdapat pula program pembelajaran bahasa Arab secara daring melalui Pusat Bahasa di bawah Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar.
Prof Abbas menjelaskan meski beasiswa penuh yang menanggung asrama dan uang saku memiliki keterbatasan anggaran dari negara Mesir, kuota untuk mahasiswa Indonesia tercatat sebagai salah satu yang terbesar di antara negara-negara lainnya.
Sementara itu, terkait pengiriman utusan pengajar (mab’uts) ke Indonesia, Prof. Abbas menjelaskan bahwa jumlahnya masih terbatas karena disesuaikan dengan alokasi anggaran dan APBN pemerintah Mesir.
Sebagai solusi atas keterbatasan tersebut, kedua belah pihak membuka opsi jalur kontrak di mana kader-kader unggulan lulusan Al-Azhar dapat didatangkan ke Indonesia dengan pembiayaan yang ditanggung oleh pemerintah Indonesia.
Menag, sebagai presiden The International Assembly of Mosque Imams (IAMI) yang terpilih dalam International Grand Imams Conference (IGIC) 2026, juga mengatakan akan menyampaikan kepada Sekjen PBB agar mengakomodir suara-suara imam di Indonesia. [Din]


