YAHUDI itu sangat penakut. Dan, sejarah panjang mereka membuktikan hal itu.
Kaum Yahudi memiliki sejarah perjalanan yang begitu panjang. Sejak di masa Nabi Ya’kub alaihissalam hingga di masa kini.
Penakut di Masa Nabi Musa
Al-Qur’an menyebut mereka sebagai Bani Israil. Di masa Nabi Musa alaihissalam, Yahudi diselamatkan dari kezaliman dan kejaran Firaun. Mereka tak berani melakukan perlawanan terhadap Firaun hingga datang Nabi Musa mengajak mereka untuk hijrah ke Palestina atau saat itu disebut negeri Kan’an.
Allah menyelamatkan mereka dari kejaran Firaun melalui laut yang terbelah menjadi daratan. Mereka pun bisa melaluinya dengan selamat.
Tapi ketika tiba di tanah baru itu, mereka tak mau berjuang melawan penguasa zalim yang menguasai wilayah itu. Mereka hanya ingin ‘enaknya’ saja.
Mereka begitu tega mengatakan kepada Nabi Musa, “Hai Musa, di sana ada penguasa yang hebat. Kami takut kesana. Silakan Anda dan Tuhan Anda berperang berdua. Kami tunggu di sini saja!”
Hal itu Allah sebutkan dalam Al-Qur’an, “Mereka berkata: wahai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang perkasa. Kami tidak akan masuk kesana sebelum mereka keluar.
“Mereka berkata pula: wahai Musa, sampai kapan pun kami tidak akan memasukinya selama mereka ada di sana. Maka, pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua. Sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja!” (QS. Al-Maidah: 22-24)
Tidak akan Berperang kecuali Punya Benteng Kuat
Inilah karakter Yahudi yang digambarkan dalam Al-Qur’an. Persenjataan mereka sangat memadai. Pasukan pun dalam jumlah banyak. Tapi, mereka baru akan berperang kalau sudah punya benteng yang kuat. Karena di situlah mereka bersembunyi, bukan berperang.
Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu. Kecuali, di dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka sangat hebat. Kamu kira mereka bersatu, padahal hati mereka berpecah belah.” (QS. Al-Hasyr: 14)
Kelemahan ini begitu dikuasai Rasulullah dan umat Islam di Madinah waktu itu. Karena itulah, mereka dengan mudah ditaklukkan.
Ditaklukkan bukan dengan peperangan. Tapi, hanya dengan pengepungan. Benteng mereka dikepung, dan akhirnya mereka pun menyerah.
Hal itulah yang terjadi di tiga benteng Yahudi dari suku Nadhir, Qainuka, dan Quraizha. Hal yang sama juga terjadi di Khaibar, wilayah sebelah utara Madinah.
Di Khaibar itu, ada sedikitnya 6 lapis benteng. Tapi, mereka tidak berani keluar benteng. Padahal, jumlah pasukan mereka puluhan ribu, sementara jumlah pasukan Rasulullah hanya sekitar 1.400 orang.
Mereka pun menyatakan kalah bukan karena peperangan yang dahsyat. Bukan. Tapi karena takut setelah dikepung selama kurang lebih 40 hari.
Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan lagi, “Sesungguhnya kamu lebih ditakuti dalam hati mereka daripada Allah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” (QS. Al-Hasyr: 13)
Meski Senjata Canggih, Israel Hanya Berani kalau Ada Amerika
Seolah membuktikan semua yang Allah sampaikan dalam Al-Qur’an, Israel begitu takut berperang melawan siapa pun. Kecuali ada ‘beking’ dari AS.
Jangankan berperang dengan sebuah negara, dengan ormas seperti Hamas pun mereka perlu beking AS. Dan meski sudah dibeking, tetap saja mereka kalah. Hal ini karena ketakutan sudah menyergap hati mereka sebelum berangkat perang.
Fenomena terakhir ini menunjukkan, mereka merengek-rengek ke AS minta dibantu total untuk melawan Iran. Dengan kata lain, bukan mereka yang nantinya akan berperang, tapi AS. Mereka hanya nonton dan ngatur saja.
Tanpa bantuan AS, Israel tak lebih hanya sekumpulan saudagar rakus yang sedang bermukim di kawasan padang pasir Arab.
Sekiranya negara-negara muslim tidak sakit wahan sepeti yang diucapkan Rasulullah, Israel sudah kabur dari sejak lama. Dan mereka akan kabur tanpa peperangan sedikit pun. Cukup kepung 40 hari, mereka akan menyerah total. [Mh]





