ILMU itu cahaya. Cahaya yang menerangi pemiliknya dan umat di sekitarnya.
Ada sosok hebat di balik Imam Syafi’i rahimahullah. Sosok itu adalah ibunya sendiri. Namanya Fathimah binti Ubaidillah.
Sejak kecil ia menggembleng putra satu-satunya itu untuk mencintai ilmu. Mulai dari hafalan Qur’an, Kitab Hadis Al-Muwatha’, dan lainnya.
Ketika putranya siap dilepas, Fathimah yang saat itu tinggal di Mekah mengirim anaknya yang yatim itu ke Madinah, untuk belajar dengan Imam Malik rahimahullah.
Pesannya kepada Imam Syafi’i: pelajari lebih dahulu adab dari beliau, baru belajar ilmu dari beliau.
Lebih dari sepuluh tahun Imam Syafi’i kecil menetap di Madinah untuk menimba ilmu dari Imam Malik. Ia tetap menekuni ilmu dari Imam Malik hingga gurunya wafat di tahun 179 hijriyah.
Apakah Imam Syafi’i pulang ke ibunya?
Tidak. Ia terus belajar dengan murid-murid utama dari Imam Abu Hanifah. Hal itu karena sang ulama itu telah lama wafat. Ia ingin menyempurnakan keilmuannya dengan menguasai ilmu dari Imam Abu Hanifah. Mereka, para murid utama beliau itu mengajar di wilayah Irak.
Lama Imam Syafi’i menekuni ilmu-ilmu itu. Puluhan tahun. Dan, Imam Syafi’i pun tumbuh sebagai sosok ‘pengganti’ dari Imam Hanafi dan Imam Malik yang memiliki keilmuan luar biasa.
Kini, tibalah saatnya Imam Syafi’i pulang kampung, untuk menemui orang yang paling ia cintai sepanjang hidupnya: ibunya.
Masyarakat Irak, dan murid-murid Imam Syafi’i membekali gurunya sekadar ‘oleh-oleh’ untuk bertemu ibunya di Mekah. Ada menghadiahinya begitu banyak unta, emas, dan harta lain yang banyak.
Sebagaimana tradisi Arab, sebelum tiba di kampung, orang yang akan pulang mengabarkan terlebih dahulu ke keluarganya di rumah. Salah seorang murid Imam Syafi’i mengabarkan kepulangan gurunya itu kepada Fathimah.
Sebegitu gembiranya sang murid, ia keceplosan juga mengabarkan tentang begitu banyak harta yang akan ikut pulang bersama Imam Syafi’i. Ia mengira, ibu Imam Syafi’i akan bangga.
“Bilang ke gurumu itu, ibu tidak mengirim dia untuk membawa pulang unta, emas, dan lainnya itu. Ibu mengirimnya untuk menuntut ilmu. Bawa pulang kitab karyanya ke ibu! Yang lainnya, sedekahkan ke warga Mekah,” begitu kira-kira yang diucapkan Fathimah ke murid Imam Syafi’i itu.
Sang murid itu merasa panik luar biasa. Ia tidak menyangka akan mendapatkan kalimat sekeras itu.
Setelah sang murid kembali ke Imam Syafi’i, Imam Syafi’i pun ikut panik. “Kamu tidak memahami siapa ibuku,” ucap Imam Syafi’i ke muridnya itu.
Maka, semua harta yang menyertai kepulangan Imam Syafi’i pun disedekahkan ke warga Mekah, di sekitar kampung halaman ibunya. Hingga, tinggallah kitab-kitab karya Imam Syafi’i yang kemudian diperlihatkan ke ibunya.
**
Ibu adalah madrasah pertama dan utama untuk anaknya. Guru kemantapan iman dan Islam anaknya. Guru hafalan Qur’an putranya. Pembina adab anaknya.
Ibu pula yang akhirnya mempengaruhi dan menentukan arah perjuangan pendidikan anaknya: apakah semata-mata untuk menuntut ilmu, atau hal lain berupa harta dan tahta.
Wahai ibu salihah, luruskan keikhlasan diri kita untuk melepas anak-anak menuntut ilmu. Insya Allah, mereka akan tumbuh sebagai alim yang menjaga keikhlasan ilmunya. [Mh]



