SEMUA makhluk ada akhirnya, termasuk kita. Persiapkan bekal untuk masa nanti.
Momen haji Wada’ merupakan pertemuan terakhir seluruh umat Islam saat itu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Meskipun, saat itu Nabi terlihat sehat wal afiat.
Adalah sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu yang bisa menangkap sinyal perpisahan itu. Beliau menangis di saat semua orang gembira karena itulah momen kemenangan besar umat Islam.
Benar saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat sekitar tiga bulan setelah itu. Usianya tepat di 63 tahun. Sebuah usia yang tergolong masih belum tua dan lansia.
Meskipun beliau shallallahu ‘alaihi wasallam orang yang paling Allah cintai, tapi ada tiba masa wafatnya juga.
Bukan hanya tentang seseorang. Masa sebuah kepemimpinan pun ada akhirnya. Khulafaur Rasyidin tidak berlangsung selamanya. Setelah mundur dan wafatnya Khalifah Hasan bin Ali, cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, masa Khulafaur Rasyidin pun berakhir.
Begitu pun dengan masa generasi sahabat. Akhirnya juga berakhir. Disusul lagi dengan berakhirnya masa tabi’in, dan tabiut tabi’in. Mereka biasa dikenal dengan masa salafus soleh.
Meskipun mereka Allah cintai, meskipun mereka generasi yang paling soleh sepanjang masa; tetap saja ada akhirnya. Dan, begitu pun kita semua.
**
“Setiap yang bernyawa pasti akan mati.” (QS. Ali Imran: 185)
“Semua yang ada di bumi ini akan binasa.” (QS. Ar-Rahman: 26)
“Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Zat-Nya (Wajah Allah).” (QS. Al-Qashash: 88)
Semua kita akan ada akhirnya. Begitu pun dengan semua yang kita cintai, semua yang kita punya, dan semua yang ada di sekitar kita.
Pertanyaannya bukan tentang kapan itu akan terjadi. Melainkan, tentang apa yang sudah kita siapkan, sebagai bekal untuk masa itu nanti. [Mh]




