ISTRI merupakan belahan jiwa suami. Begitu pun ketika suami sebagai aktivis dakwah.
Ada seorang wanita di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang nilai cintanya begitu abadi dari dan untuk Nabi. Dialah cinta pertama Nabi. Darinya, Nabi memperoleh keturunan. Dialah Sayyidah Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha.
Proses pernikahan Nabi dengan Khadijah begitu dramatis dan sangat romantis. Meskipun keduanya terpaut usia sekitar 15 tahun, lebih tua Khadijah.
Saat itu, Nabi sebagai pegawai Khadijah. Meskipun seorang wanita, aset bisnisnya luar biasa. Besarnya sekitar separuh dari seluruh aset bisnis bangsa Quraisy.
Suatu kali, Khadijah bermimpi. Ia melihat matahari berputar-putar di atas Mekah. Cahayanya begitu terang. Tak lama, matahari itu jatuh ke bumi. Dan betapa terkejutnya Khadijah ketika matahari dengan cahaya menakjubkan itu masuk ke rumahnya.
Ia bingung tentang makna mimpi ini. Khadijah teringat dengan sepupunya yang dikenal pandai dan banyak membaca kitab. Sepupunya itu bernama Waraqah bin Naufal.
Waraqah mengatakan, akan ada seorang lelaki agung, bijaksana, baik, terhormat yang akan menjadi suami Khadijah. Kabar ini begitu menggembirakan Khadijah. Tapi siapa?
Entah kenapa, ia begitu terkesan dengan seorang pegawainya: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah pria ini yang dimaksud Waraqah itu?
Ia pun mengutus seorang kepercayaannya. Ia bernama Nafisah binti Munyan. Orang yang begitu ia percayai, terutama hal-hal pribadi.
Nafisah menemui Nabi menanyakan apakah beliau tertarik dengan Khadijah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam menjawab ‘ya’. Tapi, ia terus terang tidak punya banyak uang untuk berani melamar Khadijah.
Nafisah pun mengabarkan keadaan sisi Nabi kepada Khadijah. Khadijah pun memberikan isyarat kepada Nafisah untuk menyampaikan bahwa hal itu tidak masalah. Dengan kata lain, Khadijah memberikan lampu hijau kepada Nabi.
Akhirnya, Nabi pun datang untuk melamar Khadijah. Setidaknya, sebagai penegasan apakah Khadijah akan menerima lamaran itu atau tidak.
Nabi menyampaikan maksud hatinya dengan kalimat bersayap. Mungkin sudah menjadi tradisi Arab bangsawan waktu itu.
Beliau kira-kira mengungkapkan, ada seorang lelaki yatim piatu yang ingin melamar seorang calon istri. Tapi, ia tidak punya cukup uang untuk berani melamar wanita yang dicintainya itu.
Dan Khadijah pun menjawab dengan kalimat bersayap pula. Isinya kira-kira, aku akan menunjukkan kepadamu seorang wanita kaya yang baik hati. Ia akan siap menerima lamaran seorang lelaki meskipun tidak punya harta. Hal itu karena ia sangat mengutamakannya melebihi kaisar dan raja sekali pun.
Sayangnya, masih menurut Khadijah, ia punya satu aib: ia pernah bersuami.
Jawaban ini dipandang oleh Nabi sebagai penolakan karena Khadijah menunjukkan bahwa ia orang kaya.
Ketika kesimpulan ini diceritakan ke Abu Thalib dan saudara-saudaranya, anak-anak Abdul Muthalib, adik dari Abu Thalib yang wanita: Atiqah marah besar. Ia pun tak lagi bisa menahan diri untuk mendatangi Khadijah.
Di depan Khadijah, Atiqah langsung marah-marah. Kenapa Khadijah menghina keponakannya karena harta.
Khadijah kaget. Ia pun meluruskan maksud kata-kata bersayapnya itu. Bahwa, ia sangat menerima lamaran Nabi meskipun ia tidak punya banyak harta. Karena hal itu bagi Khadijah tak jadi masalah.
Keduanya pun saling berdamai dan menjalin kedekatan persahabatan. Khadijah juga menyampaikan bahwa ia siap dilamar oleh rombongan dari Bani Hasyim. Ia akan mengajak sepupunya Waraqah bin Naufal untuk menjadi pendamping.
Kabar dari Khadijah itu menggembirakan seluruh keluarga besar Bani Hasyim. Mereka pun datang melamar ke rumah Khadijah dengan ‘serah-serahan’ dan uang mahar sebesar 500 dirham.
Sambutan kedua belah pihak pun saling bersahut. Abu Thalib mengatakan, anak saudaraku ini memang tak punya harta. Tapi, ia begitu istimewa. Bahkan melebihi seluruh lelaki yang ada di Quraisy ini.
“Inilah mahar dan ‘seserahan’ dari kami. Ada uangku dan uang saudara-saudaraku juga,” ucap Abu Thalib dengan candaan yang bersahabat dan hangat.
Setelah acara pernikahan usai, Khadijah menghampiri Nabi. Ia ingin menyampaikan apa yang mungkin dianggapnya sebagai penghalang atau kesalahpahaman Nabi.
“Semua hartaku, yang bergerak atau pun yang tidak, aku serahkan kepadamu. Terserah engkau akan belanjakan untuk apa sekehendakmu,” ungkap Khadijah.
Dari pernikahan itu, Nabi dan Khadijah dikaruniai Allah 6 orang anak: Abdullah, Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kulsum, dan Fathimah radhiyallahu ‘anhum. Tapi, dua anak lelaki mereka wafat ketika masih kecil.
Ketika Nabi berkali-kali ke Gua Hira, Khadijah selalu menyiapkan segala perbekalan yang dibutuhkan. Dan ketika Nabi tak kunjung tiba di rumah, Khadijah sesegera mungkin menyusul untuk memastikan kabar baik suaminya.
Dan ketika Nabi mengabarkan bahwa ia menerima wahyu dari Allah melalui Malaikat Jibril, Khadijah langsung mengimaninya. Dialah wanita dan orang pertama yang menerima Islam. Apa pun yang kelak akan ia korbankan.
Pernah suatu hari, Malaikat Jibril menemui Rasulullah dan mengabarkan kalau Allah subhanahu wata’ala menyampaikan salam untuk Khadijah. Sebuah istana dari mutiara sudah disiapkan untuknya
Khadijah radhiyallahu ‘anha wafat di tahun kesepuluh kenabian suaminya. Ia wafat dalam keadaan sakit sebagai dampak dari pemboikotan ekonomi terhadap kaum muslimin dan Bani Hasyim oleh kafir Quraisy.
Selama 25 tahun masa pernikahan yang sangat berkah dan penuh suka duka itu, Nabi tak pernah mempoligami Khadijah, hingga akhir hayatnya.
**
Dakwah Islam itu bukan tugas ringan. Selalu ada hambatan dan duka membersamainya. Dan obat dari semua hambatan dan duka itu adalah sosok istri yang salihah.
Ia tetap mendampingi di kala orang sekitar menjauh. Ia rela membiayai di saat orang memutus silaturahim. Ia selalu bersama suami dan dakwahnya, hingga akhir hayatnya. [Mh]





