RAHASIA bisa bersyukur itu satu: selalu merasa lebih beruntung dari keadaan orang lain.
Seorang penjaga kebun binatang begitu menikmati pekerjaannya melayani beragam hewan. Ada yang buas, ada yang jinak, ada hewan air, hewan bersayap yang bisa terbang, hewan melata, dan lainnya.
Setiap hari, ia mengurus makanan, kesehatan, kebersihan tempat tinggal semua hewan di situ. Bermula dari kewajiban sebagai pegawai, lama kelamaan, ia melayani hewan-hewan dengan cinta.
Begitu pun dengan para hewan. Perlakuan baik yang mereka terima dari penjaga kebun binatang itu menjadikan sosok sang petugas sudah seperti sahabat bagi para hewan.
Setidaknya, semua itu bagian dari kesimpulan yang dibayangkan penjaga kebun binatang.
Satu hal yang disyukuri sang penjaga aneka hewan itu: ia tidak pernah memahami bahasa hewan. Meskipun, setiap hari aneka hewan ‘bersuara’ keras di hadapannya.
Yang bisa ia simpulkan adalah para hewan tidak pernah saling iri satu sama lain. Meskipun macam makanannya berbeda-beda dan tempat tinggalnya juga berbeda-beda.
Ia perhatikan secara gestur bahwa hewan air tak perlu merasa iri dengan burung yang bisa terbang. Begitu sebaliknya, burung-burung tak merasa iri dengan ikan yang jago berenang.
Masing-masing hewan begitu menikmati keberadaannya. Tak pernah ia jumpai ada gajah yang protes karena tak pernah diberikan daging. Begitu pun dengan harimau yang tak pernah diberikan ‘salad’ segar.
Ia pun berpikir, rasanya hanya manusia yang bosan dengan dirinya dan ingin menjadi seperti yang lain.
**
Islam mengajarkan bahwa iri hati itu tidak diperbolehkan. Kecuali, terhadap orang yang punya ilmu lebih dan punya sedekah lebih banyak, tanpa mengharapkan kehilangan dari orang yang punya kelebihan itu.
Kita kadang merasa ingin seberuntung orang lain karena kelebihan yang mereka miliki. Padahal di sisi yang berbeda, orang lain boleh jadi merasa ingin seberuntung seperti kita.
Cobalah untuk selalu berlatih mencermati orang-orang yang tidak seberuntung yang kita dapatkan. Dengan begitu, kita akan selalu bersyukur dengan apa yang kita peroleh.
Terobsesi dengan sesuatu yang tidak kita miliki, bukan hanya membuat kita tersiksa; tapi juga menjadikan kita sulit bisa bersyukur kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. [Mh]


