ALLAH subhanahu wata’ala membuka pintu rahmat-Nya. Saat itulah ampunan dan keberkahan tercurah kepada hamba-hamba-Nya.
Dalam generasi tabi’in, ada sosok ahli hadis yang selalu dinilai tsiqah: terpercaya hadisnya. Di antara mereka adalah Khalid bin Ma’dan rahimahullah.
Khalid belajar dari sekitar 70 sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara mereka adalah Abu Hurairah dan Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma.
Salah satu pelajaran yang begitu menyentuh Khalid dari Muadz bin Jabal adalah tentang orang soleh yang dikagumi malaikat pencatat amal.
Namun di luar dugaan, saat amal itu naik ke langit ketujuh, malaikat di sana membuangnya. Hal ini karena di balik hebatnya amal itu ada sifat ujub, atau bangga terhadap kelebihan diri sendiri.
Keilmuan dan kesolehan Khalid bin Ma’dan tak diragukan lagi oleh para ulama semasanya. Ia tinggal di Suriah, meskipun lahir di Yaman. Di masa itu, sosoknya kerap menjadi rujukan.
Di wilayah itu, juga tempat di mana Khalifah Bani Umayyah tinggal dan memerintah. Yang menarik, ketika bertemu dengan Khalid, khalifah tak berani menatap wajahnya. Sebegitu kuatnya wibawa ulama yang wafat pada tahun 104 hijriyah ini.
Salah satu amaliah fenomenal yang ia rintis dan diikuti oleh ulama-ulama setelahnya adalah menghidupkan malam Nisfu Sya’ban.
Dasar rujukan hadisnya begitu kuat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala memperhatikan makhluknya pada malam Nisfu Sya’ban. Allah mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali yang menyekutukan Allah dan yang menebar kebencian sesama manusia.” Hadis ini dinilai para ulama hadis berderajat shahih.
Khalid bin Ma’dan bersama sejumlah ulama lainnya di wilayah Syam atau Suriah saat itu menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan berzikir, beristigfar, shalat sunnah, berdoa, dan lainnya. Pada malam itu, para ulama mengenakan busana terbagus mereka.
Dari situlah, amaliyah malam Nisfu Sya’ban terus hidup dan menyebar hingga saat ini. Termasuk yang selalu dilakukan di negeri Indonesia.
Salah satu nasihat dari Khalid bin Ma’dan, “Kejarlah pintu rahmat Allah subhanahu watala selagi dibuka, karena kita tak pernah tahu kapan akan ditutup.”
**
Di antara perbedaan generasi kita saat ini dengan kaum salaf, generasi terbaik Islam, adalah pada perburuan amal yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Mereka begitu mengejar dan ‘berburu’ amal yang terbaik agar bisa meraih ampunan dan rahmat Allah subhanahu wata’ala. Sementara kita, merasa cukup dengan apa yang sudah ada. Meskipun sangat minim dan sangat riskan tidak terkabul. [Mh]





