LUPA itu lumrah dalam diri manusia. Bahkan, lupa itu merupakan rahmat Allah subhanahu wata’ala.
Ada balita yang terjatuh saat bermain dengan teman-temannya. Dahinya benjol terbentur lantai. Ia menangis sejadi-jadinya.
Ibunya memeluk si balita. Luka si balita diobati ibu. Ibu pun memberikan si balita es krim kesukaan anaknya itu.
Beberapa waktu kemudian, si balita bermain lagi bersama teman-temannya. Ia lupa dengan sakit di dahinya yang belum begitu sembuh.
**
Seorang bapak diberikan hadiah ‘istimewa’ oleh anaknya. Hadiah itu berupa makanan jadul yang kini sudah langka. Nama makanan itu tape uli. Yaitu, makanan khas warga Jabodetabek yang memadukan antara tape ketan hitam dengan uli yang terbuat dari ketan putih.
Sang bapak begitu menikmati makanannya. Sebelumnya, ia lupa seperti apa rasanya tape uli yang dulu begitu ia sukai.
**
Kakak adik itu berangkulan begitu erat setelah puluhan tahun tak bertemu. Keduanya pun menangis haru karena bahagia bisa bertemu lagi, meskipun keduanya sudah sama-sama tua.
Sambil menangis, sang kakak bilang, “Aku kira kamu sudah mati, Dik! Syukur kita bisa ketemu lagi.”
Sang adik pun hampir tak percaya kalau kakaknya yang sejak lama mengikuti transmigrasi bisa ia temui lagi.
Apakah dahulunya mereka berpisah semata-mata karena transmigrasi? Ternyata tidak. Keduanya pernah merasa saling tidak cocok.
Lupa menjadikan mereka seolah mendapati orang yang pernah dibenci menjadi begitu sangat dicintai.
**
Sebuah kalimat penuh hikmah mengatakan, “Manusia itu tempatnya salah dan lupa.”
Tentu ini tidak dimaksudkan sebagai alasan pembolehan tindakan manipulatif. Melainkan sebuah pemakluman dan kelayakan maaf yang diberikan kepada keluarga, kerabat, dan sahabat.
Dan pada masanya, para lansia akan sering merasakan lupa. Keadaan ini bukan untuk menyusahkannya. Sebaliknya, menjadikan masa tuanya yang lemah tidak melulu tersiksa dengan hal tidak menyenangkan di masa lalu.
Bersyukurlah ketika merasakan lupa. Itulah rahmat dan nikmat Allah yang kadang kita lupakan kebaikannya. [Mh]





