IBU itu mulia, melampaui kemuliaan manusia apa pun. Tapi, bagaimana dengan kemuliaan Islam?
Ada sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang begitu perfect, sempurna. Muda, tampan, menarik, kaya, cerdas, dan beradab tinggi. Ia adalah Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu.
Mush’ab bin Umair merupakan idola anak muda di Mekah. Ia tampan dan cerdas, adabnya begitu tinggi. Tubuhnya selalu harum. Siapa pun yang berbicara dengannya akan menghormati dan memuliakannya. Meskipun Mush’ab hanya anak usia dua puluhan tahun.
Bahkan, sedemikian mulianya sosok Mush’ab di kalangan petinggi Quraisy, anak muda itu diperbolehkan untuk mewakili sukunya di rapat pembesar Quraisy.
Hampir tak ada yang ditakuti dan disegani Mush’ab. Siapa pun. Kecuali, satu orang. Yaitu, ibunya sendiri.
Ibunya Mush’ab orang kaya. Karakternya keras. Dan, ia memiliki banyak pengawal.
Ketika Mush’ab bertemu dengan Rasulullah, ia langsung ‘jatuh cinta’. Terlebih ketika Nabi kerap membacakannya Al-Qur’an. Orang yang cerdas dan berwawasan luas, akan memahami betul apa yang terkandung dalam Al-Qur’an. Mush’ab masuk Islam di tahun keempat kenabian.
Namun begitu, Mush’ab tetap merahasiakan keislamannya. Secara rahasia ia mengikuti kajian bersama Rasulullah di rumah Al-Arqam bin Abi Arqam. Hingga, ada seseorang yang memergokinya sudah masuk Islam.
Info rahasia ini menyebar. Hingga sampai ke telinga ibu Mush’ab dan keluarga besarnya.
Mush’ab pun disidang, diinterogasi, dimarah-marahi keluarga besarnya, hingga ibunya nyaris akan memukul wajah Mush’ab karena begitu emosi. Mush’ab pun membacakan sebagian dari ayat Al-Qur’an.
Mendengar bacaan Al-Qur’an dari Mush’ab sontak seisi ruangan tertegun. Mereka memahami apa yang disampaikan Al-Qur’an. Termasuk ibu Mush’ab yang akhirnya urung akan memukul wajah Mush’ab.
“Kurung dia!” ucap sang ibu kepada para pengawalnya. Dan, beberapa hari Mush’ab terpenjara dalam kurungan di rumahnya sendiri.
Hingga, ia mendapat kabar kalau Rasulullah menghijrahkan sebagian sahabat dan sahabiyah menuju negeri Habasyah atau Ethiopia. Setelah berhasil melarikan diri, Mush’ab ikut hijrah ke Habasyah.
Beberapa tahun di Habasyah, Mush’ab kembali ke Mekah. Rupanya hal itu juga diketahui ibunya. Mush’ab kembali ditangkap orang-orang ibunya.
Tapi, di hadapan ibunya, Mush’ab berbicara tegas. “Siapa pun yang menghalangiku dari jalan Islam, akan aku lawan!”
Ibunya tak mau surut. Ia mengancam Mush’ab, “Kalau kamu tidak mau kembali kepada keyakinan nenek moyang kita, aku akan putus semua fasilitas yang selama ini kuberikan.”
Itulah momen terakhir pertemuan antara Mush’ab dan ibunya. Dua-duanya sama-sama teguh dengan prinsip masing-masing.
Tak lama setelah kejadian itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan Mush’ab duta atau dai khusus untuk warga Madinah. Saat itu, belum ada perintah hijrah ke Madinah.
Mush’ab menunaikan tugasnya dengan begitu sempurna. Begitu banyak tokoh Madinah yang masuk Islam melalui dakwahnya. Di antaranya adalah dua kepala suku: Aus dan Khazrah. Yaitu, Saad bin Muadz dan Saad bin Ubadah. Dengan begitu, tak lagi ada halangan Islam masuk ke Madinah.
Mush’ab menikah dengan muslimah yang juga putri dari suku terhormat di Quraisy. Namanya Hamnah binti Jahsy radhiyallahu ‘anha. Hamnah adalah adik dari Zainab binti Jahsy yang juga istri Rasulullah.
Setelah peristiwa hijrah ke Madinah, Mush’ab mengikuti perang yang dipimpin Rasulullah. Termasuk Perang Badar dan Uhud.
Allah berkehendak lain. Mush’ab tidak lagi bisa mengikuti peperangan lain setelah Uhud. Hal ini karena ia syahid di Perang Uhud.
Musuh mengira kalau sosok Mush’ab adalah Rasulullah yang mereka incar. Ketika syahid, Nabi kesulitan mencari kain kafan untuk menutupi tubuh Mush’ab. Sekali pun ada tidak mencukupi. Kalau ditutupi bagian wajah, kakinya terlihat. Begitu pun sebaliknya.
Mush’ab syahid di usia 40 tahun. Ia meninggalkan seorang istri dan seorang putri. Namanya Zainab binti Mush’ab.
Jasa Mush’ab tak ternilai untuk perjuangan Islam. Dialah sosok di balik kesiapan warga Madinah menerima kedatangan Rasulullah dan Islam.
**
Siapa pun mencintai ibu. Bahkan orang jahat sekali pun memiliki kecintaan yang tinggi kepada ibunya. Islam pun mengajarkan demikian.
Inilah ujian besarnya. Adakalanya, ibulah yang paling tidak suka dengan hal yang Islami terhadap anaknya.
Tetaplah dalam pijakan istiqamah. Tetap pula hormati dan cintai ibu. Boleh jadi, Allah akan melimpahkan cahaya Islam kepada hati ibu melalui keteguhan anaknya. [Mh]


