ALAM itu tegak dalam keseimbangan, pada benda mati dan makhluk hidup.
Ada yang unik dari burung Gemak Loreng. Burung ini bertubuh kecil. Ukuran maksimalnya hanya 15 sentimeter. Beratnya hanya sekitar 70-an gram.
Dari bentuknya, Gemak Loreng mirip burung Puyuh. Sayapnya yang kecil tidak membuat mereka bisa terbang.
Tapi, kaki-kaki mereka begitu kuat dan bergerak cepat. Mungkin, kalau tak sengaja melihat gerakan mereka, mirip seperti kilatan warna coklat. Karena sebegitu cepatnya.
Para ahli terperangah dengan cara hidup Gemak Loreng yang lain dari biasanya. Terutama dalam hubungan antara jantan dan betina: perkawinan, pengeraman, dan siapa yang bertanggung jawab terhadap tumbuh kembang anak-anaknya.
Dalam Gemak Loreng, bukan jantan yang mencari betina untuk dikawini. Sebaliknya, betinalah yang mencari jantan. Bahkan, para betina ini saling bersaing demi mendapatkan jantan.
Setelah perkawinan, betina akan membuat sarang dan bertelur. Sarang-sarang selalu dibangun di tanah dan didesain dengan menggunakan semak-semak kering.
Betina hanya bertugas sampai di sini. Setelah itu, jantanlah yang mengerami dan mengasuh anak-anak mereka hingga dewasa.
Lalu, betinanya kemana? Betinanya pergi dan pada musim kawin berikutnya, ia akan mencari jantan baru. Begitu seterusnya.
Benar-benar sebuah fenomena terbalik dari kehidupan dunia burung.
**
Keadaan hidup kadang tidak linier, normal, dan berlangsung biasa. Adakalanya, terjadi ‘tekanan’ hidup yang menjadikan peran suami dan istri tidak berlangsung seperti biasanya.
Istri yang secara normal tinggal di rumah mengasuh anak-anak, justru harus keluar rumah mencari nafkah. Dan sebaliknya, suami yang biasanya mencari nafkah, justru menjadi pengurus rumah dan pengasuh anak-anak mereka.
Ini mungkin bukan kelaziman. Tapi keadaan yang tidak ‘normal’ bisa saja menjadikan hal ini menjadi lazim dan biasa. Keseimbangan akan selalu mencari jalannya sendiri.
Namun begitu, ada yang tidak boleh berubah dari sosok suami dan istri. Istri harus tetap berada dalam tanggung jawab satu suami.
Selain itu, jangan pernah menganggap bahwa mengurus rumah dan mengasuh anak-anak sebagai tugas sekunder. Justru di sinilah pokok dari tugas rumah tangga. Dan siapa pun yang mencari nafkah, jangan pernah menganggap sebagai pihak yang paling berjasa.
Persis seperti permainan sepak bola. Siapa pun yang berpeluang besar mencetak gol, tak perlu berpikir panjang tentang siapa dirinya: sebagai penyerang, bek, bahkan penjaga gawang sekali pun. Tapi setelah itu, ia harus sadar diri kembali ke posisi utamanya. [Mh]


