ISLAM dan perjuangan tak bisa dipisahkan. Dan rahasia kemenangannya ada dari dalam hati umatnya.
Ada kisah menarik di balik penaklukan Mongolia di Kekhalifahan Abasiyah tahun 1258 masehi. Kisah ini tentang sosok guru madrasah yang berani memenuhi undangan penguasa Mongolia saat itu, Hulagu Khan, untuk berdialog.
Saat itu, Hulagu meminta tokoh-tokoh Islam untuk datang menemuinya. Tapi, tak satu pun yang berani. Siapa yang berani menemui pembantai ratusan ribu penghuni istana Abasiyah, termasuk khalifah dan keluarganya.
Nama guru madrasah yang ‘nekat’ itu adalah Kadihan. Ia datang menemui Hulagu dengan membawa seekor unta, kambing, dan ayam jantan.
Hulagu menatap Kadihan begitu tajam. Ia seperti heran dengan sosok yang kini mewakili umat Islam di Abasiyah itu: kurus, masih sangat muda, dan tampil biasa saja.
“Kenapa kamu yang datang?” tanya Hulagu kepada Kadihan.
Dengan enteng Kadihan menjawab, “Kalau Anda ingin yang datang berbadan besar, saya membawa unta. Kalau Anda ingin yang datang berjanggut tebal, saya juga membawa kambing. Dan kalau Anda ingin yang datang bersuara ‘vokal’, saya sudah menyiapkan ayam jantan.”
Hulagu kini menyadari kalau guru madrasah kurus itu bukan orang sembarangan. Mungkin, sosok inilah yang sebenarnya dia inginkan untuk diajak berdialog.
“Baiklah. Menurutmu, apa yang membuatku datang kesini dan akhirnya memberangus seluruh pejabat negerimu?” tanya Hulagu.
“Allah yang membuat Anda datang kesini. Allah mengizinkan Anda memberangus para pejabat seisi istana kami agar kami menyadari satu hal,” jawab Kadihan.
“Apa itu?” tanya Hulagu penasaran.
“Segala kemewahan, hedonisme, dan bermegah-megahan adalah kelemahan besar kami,” ungkap Kadihan.
Hulagu akhirnya mengangguk-angguk. Ia pun menanyakan pertanyaan pamungkas: “Menurutmu, apa yang akan mengusir keberadaan kami di negerimu?”
“Tauhid kami,” jawab Kadihan sambil mengisyaratkan tangannya ke dadanya. “Tauhid yang menguatkan tekad kami berjuang. Tauhid yang menyingkirkan penyakit wahan kami. Tauhid yang akan menyatukan barisan pejuang kami,” pungkas Kadihan.
Kali ini, Hulagu berubah kagum. Inilah jawaban yang ingin ia dengar dari generasi muda penerus dakwah Nabi.
**
Kunci perjuangan Islam itu bukan dari sarana yang memadai. Bukan pula dari uang yang lebih. Bukan pula dari keterampilan yang mumpuni.
Tapi, dari keikhlasan yang murni, buah dari Tauhid yang benar yang menyatukan umat dalam barisan yang kokoh.
Yakinlah bahwa masa depan ada di ‘tangan’ Islam. Dan, mengawalinya dari dalam hati kita sendiri. [Mh]





