ISLAM mengajarkan umatnya untuk selalu berdiri di atas kebenaran dan menjauhi segala bentuk kezaliman. Larangan tersebut tidak hanya ditujukan kepada pelaku zalim, tetapi juga kepada siapa pun yang mendukung, membenarkan, atau berpihak kepada mereka. Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah memberikan peringatan yang tegas agar seorang muslim tidak menjadi bagian dari barisan orang-orang yang merusak dan menindas sesama.
Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Hud ayat 113 agar kaum beriman tidak cenderung kepada orang-orang zalim. Sikap “cenderung” dalam ayat ini bukan hanya berarti ikut melakukan kezaliman, tetapi juga memberikan dukungan, simpati, atau pembenaran yang membuat kezaliman semakin kuat. Allah mengingatkan bahwa keberpihakan kepada kezaliman dapat menyeret seseorang kepada azab-Nya.
Baca Juga: Sedekah Diam-diam yang Menjadi Naungan di Padang Mahsyar
Jangan Menjadi Pendukung Kezaliman Meski Hanya dengan Pembenaran
Peringatan serupa juga terdapat dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 151–152. Allah melarang menaati orang-orang yang melampaui batas, yaitu mereka yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak melakukan perbaikan. Sementara dalam Surah Al-Kahfi ayat 28, kaum muslimin diperintahkan untuk tidak mengikuti orang yang lalai mengingat Allah dan menjadikan hawa nafsu sebagai pedoman hidupnya. Ketiga ayat ini menunjukkan bahwa ketaatan hanya layak diberikan kepada kebenaran, bukan kepada kebatilan.
Rasulullah memperjelas pesan tersebut melalui hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan An-Nasa’i. Beliau mengabarkan bahwa akan datang para pemimpin setelah beliau, lalu memperingatkan agar umat tidak membenarkan kedustaan mereka dan tidak membantu kezaliman yang mereka lakukan. Bahkan Rasulullah menegaskan bahwa orang yang menjadi pendukung kezaliman bukan termasuk golongannya dan tidak akan mendatangi telaga beliau di hari kiamat. Hadis ini menjadi pengingat bahwa membela kebatilan adalah dosa yang sangat besar.
Nasihat ini sejatinya berlaku luas, bukan hanya kepada penguasa. Kezaliman bisa dilakukan oleh siapa saja, baik pemimpin, atasan, rekan kerja, maupun individu dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang sengaja membenarkan fitnah, menutupi ketidakadilan, atau ikut menindas orang lain demi kepentingan pribadi, ia telah mengambil bagian dalam perbuatan zalim tersebut.
Dalam riwayat lain, Rasulullah juga menyebut adanya sebuah lembah di neraka bernama Hab Hab yang disediakan bagi para diktator dan orang-orang yang berlaku sewenang-wenang. Gambaran ini menunjukkan betapa beratnya ancaman bagi mereka yang menjadikan kezaliman sebagai jalan hidup.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Karena itu, seorang muslim hendaknya memilih untuk berada di sisi orang-orang yang benar, meski terkadang harus menghadapi risiko atau tekanan. Jangan pernah meremehkan doa orang yang dizalimi, sebab doa mereka memiliki kedudukan yang istimewa di hadapan Allah. Semoga Allah meneguhkan hati kita untuk mencintai keadilan, menjauhi kezaliman, dan tidak menjadi pendukung kebatilan dalam bentuk apa pun. [DW]
Sumber: Ustadz Farid Nu’man





