ISTRI galak tidak selalu tentang keburukan. Ada juga hikmah dan kebaikannya.
Ada seorang ahli sufi yang begitu sabar menjalani hubungan suami istri hingga akhir ajalnya. Meskipun, istrinya galak.
Ahli sufi itu bernama Syaikh Ahmad Ar-Rifai rahimahullah. Beliau adalah pendiri tarekat Rifaiyah di Irak pada tahun 1118 M.
Syaikh Rifai memiliki santri yang begitu banyak. Tidak sedikit dari para santri beliau yang menjadi ulama untuk meneruskan kiprah dakwah beliau.
Namun begitu, tak ada satu pun dari para santri yang banyak itu tahu tentang keadaan rumah tangga gurunya itu. Hingga suatu kali, salah santri Syaikh Rifai bermimpi. Sang santri bermimpi kalau gurunya begitu bahagia di dalam surga.
Mimpi yang jarang terjadi itu menggerakkan sang santri untuk menanyakan hikmahnya ke gurunya. Ia pun mendatangi rumah gurunya di saat gurunya berada di rumah.
Belum lagi ia mengetuk pintu, tidak secara sengaja ia melihat gurunya dimarah-marahi istrinya. Bahkan, istrinya sempat memukul sang guru dengan gagang alat masak.
Namun begitu, sang santri menyaksikan kalau gurunya itu tak memberikan reaksi apa-apa. Ia hanya diam dan sabar.
Hal ini pun disampaikan ke para santri yang lain. Dengan kompak para santri bersepakat bahwa gurunya itu harus mencerikan istrinya. Hal ini karena sudah melampaui batas.
Tapi masalahnya, kalau gurunya menceraikan istrinya, sang guru harus mengganti biaya mahar. Saat itu nilainya sebesar ratusan dinar.
Demi rasa cinta kepada gurunya, para santri itu patungan untuk memudahkan sang guru menceraikan istrinya. Dan uang ratusan dinar pun sudah terkumpul untuk diserahkan ke gurunya.
Ketika bertemu dengan gurunya, para santri menyerahkan uang itu. “Untuk apa uang ini?” tanya Syaikh Rifai.
Santrinya pun menceritakan apa yang ia saksikan. Ia berkesimpulan kalau Syaikh Rifai patut untuk menceraikan istrinya.
Namun, gurunya itu hanya tersenyum santai. “Tidak usah. Kembalikan uang ini kepada teman-teman kalian,” ucapnya.
“Jadi, guru rela dimarahi dan dipukul istri terus?” tanya sang santri.
Gurunya lagi-lagi menanggapi pertanyaan itu dengan senyum ringan. “Santriku, apa kamu akan bermimpi melihatku bahagia di dalam surga kalau aku tidak bersabar dengan perlakuan istriku terhadapku?” ungkap Syaikh Rifai retoris.
**
Ujian sabar itu kadang tidak pada sesuatu yang terlihat besar seperti sikap tegas terhadap kekuasaan yang zalim.
Justru ujian sabar yang sebenarnya ada pada hal-hal nyata dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk, sabar untuk selalu bersama dengan istri yang galak. [Mh]



