DOA itu bagian dari ibadah. Ada doa yang ditunda terkabulnya. Ada pula yang mustajab: langsung dikabulkan.
Beberapa sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum doanya begitu mustajab. Di antara mereka adalah seorang sahabat yang dijamin masuk surga oleh Nabi. Namanya, Said bin Zaid bin Amr radhiyallahu ‘anhu.
Nama Said bin Zaid begitu populer ketika membaca kisah masuk Islamnya Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Hal ini karena melalui dirinyalah, Umar bin Khaththab tersentuh dan akhirnya masuk Islam.
Yaitu, ketika Said bin Zaid yang juga adik ipar Umar ini membaca beberapa ayat awal Surah Thaha. Umar yang awalnya akan marah besar kepada adik iparnya itu, justru tersentuh dan masuk Islam.
Said lahir 23 tahun setelah kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika risalah Islam datang melalui Rasulullah, usianya baru 17 tahun. Namun begitu, ia tergolong sahabat Nabi yang pertama masuk Islam.
Semua ahli sejarah tidak merasa heran kenapa Said menjadi sosok yang pertama-tama masuk Islam. Hal ini karena peran ayahnya: Zaid bin Amr yang begitu hebat sebelum Islam datang di Mekah.
Zaid bin Amr tidak pernah menyembah berhala. Ia beragama tauhid mengikuti agama Nabi Ibrahim alaihissalam yang diajarkan turun-temurun di wilayah Mekah. Zaid pula yang mencegah masyarakat jahiliyah untuk membunuh anak-anak perempuan mereka.
Ketika ada orang yang akan membunuh anak perempuan mereka, Zaid langsung mendatangi mereka. Dan Zaid menyatakan siap untuk mengadopsi anak perempuan malang itu.
Bukan itu saja. Zaid selalu berpergian jauh dari Mekah untuk mencari-cari agama yang diridhai Allah. Ia mendatangi rahib Yahudi dan pendeta Nasrani di negeri-negeri pusat mereka, seperti di Syam, Irak, dan lainnya waktu itu.
Suatu kali dalam pencarian itu, Zaid bertemu dengan seorang rahib. Rahib itu mengatakan, sosok nabi yang kau cari ada di negerimu yang kau tinggalkan saat ini. Tak lama lagi, ia akan datang.
Mendengar jawaban itu, Zaid bersegera kembali ke Mekah. Namun di tengah perjalanan, ia dibunuh oleh sekelompok orang jahat. Sebelum meninggal, Zaid berdoa kepada Allah, “Ya Allah jika Engkau ‘menghalangi’ aku bertemu dengan Nabi-Mu, janganlah Engkau ‘halangi’ anakku bertemu dengannya.”
Semua peperangan yang dipimpin Nabi selalu diikuti oleh Said bin Zaid. Kecuali Perang Badar. Bukan karena ia malas atau lainnya. Melainkan, karena ia sedang mendapat tugas dari Rasulullah untuk memantau pergerakan kafilah dagang Quraisy menuju Suriah.
Ketika tugas itu selesai, ia kembali ke Madinah di saat Perang Badar sudah selesai.
Bahkan setelah Rasulullah wafat, ia selalu mengikuti peperangan bersama Khulafaur Rasyidin. Ia ikut berperang melawan Persia, dan Romawi di wilayah Suriah bersama panglima Khalid bin Walid dan Abu Ubaidah bin Jarrah.
Bahkan, ia sempat ditunjuk oleh Abu Ubaidah bin Jarrah untuk menjadi walikota Damaskus. Setelah itu, ia kembali ke Madinah.
Di saat masa tuanya, ada peristiwa yang tidak enak ia alami. Ada seorang wanita Madinah bernama Urwa binti Aus yang mengaku-ngaku bahwa tanahnya dirampas oleh Said bin Zaid. Saat itu, kepemimpinan Madinah dipimpin oleh walikota Marwan bin Hakam.
Said bin Zaid marah dengan klaim itu. Ia sempat mengatakan kepada walikota bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat marah dengan orang yang mengambil harta orang lain.
Dari mulutnya juga terucap, Semoga wanita ini buta dan dikuburkan di sumurnya.
Tak lama berselang, wanita yang memfitnah Said itu pun mengalami buta. Ketika wanita itu panik dengan kebutaannya, ia berjalan melewati sumur rumahnya dan akhirnya tercebur dan mati.
Saat itulah, orang-orang teringat dengan ucapan Rasulullah tentang mustajabnya doa Said bin Zaid.
Meski hampir seratus persen usianya dihabiskan untuk jihad fi sabilillah, Said bin Zaid wafat karena sakit. Ia wafat pada tahun 671 masehi, di usia 78 tahun.
**
Doa itu begitu mustajab ketika seorang hamba Allah tak lagi berjarak dengan Allah subhanahu wata’ala. Meskipun, ada doa yang ditunda terkabulnya karena rahmat atau kasih sayang Allah juga.
Berusahalah untuk selalu dekat dengan Allah melalui wasilah yang Allah ajarkan melalui Nabi-Nya. Bersyukurlah ketika doa mustajab, dan berbaik sangkalah ketika tertunda. Karena semua kebaikan yang Allah takdirkan adalah yang terbaik untuk kita. [Mh]




