AKTIVITAS lisan itu dua: bicara atau diam. Bicaralah tentang kebaikan atau diam, karena diam dari ucapan yang buruk juga berarti kebaikan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan bahwa siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah berkata yang baik atau diam.
Berkata yang baik itu luas, atau kebalikan dari perkataan yang buruk: mencela, mengajak keburukan, ghibah, fitnah, dusta, dan lainnya.
Tidak berarti bahwa umat Islam itu harus pendiam. Melainkan, berbicara seusai dengan porsi dan tujuannya baiknya.
Seorang dai atau guru, ia harus aktif berbicara, gaya bicaranya menarik, dan berisi. Begitu pun seorang marketing, ia harus aktif berbicara. Tapi, tidak keluar dari kebaikan.
Seorang suami atau istri, dalam keluarga, juga harus banyak bicara: memuji, merayu, mengkritik pasangan, dan lainnya. Begitu pun sebagai ayah dan ibu. Harus aktif bicara dengan anak-anak untuk mengajarkan, mengakrabkan, dan meluruskan.
Jadi, jangan diam dari ucapan kebaikan yang luas itu. Diam baru dibutuhkan ketika ada ‘pancingan’ untuk mengucapkan yang buruk.
Bicara atau diam di zaman saat ini tidak berarti dengan hanya tentang lidah. Komen atau tidak di media sosial juga bagian dari itu. Bahkan boleh jadi, dampak ‘ucapan’ buruk di dunia medsos ini jauh lebih luas dari ucapan langsung.
Namun, jangan salah paham tentang arti diam. Diam dari meluruskan yang ‘bengkok’ juga berarti buruk. Terlebih, kita merupakan pihak yang mampu atau kompeten untuk meluruskan.
Ulama menyebut orang yang diam saja terhadap ‘kebengkokan’ umat adalah setan yang bisu. Kenapa? Karena diamnya orang yang kompeten akan ditafsirkan sebagai pembenaran.
Sekali lagi, bicaralah tentang hal yang baik, langsung atau dengan komen; atau diam untuk menghindari keburukan. [Mh]



