BERKAH tidak selalu berarti banyak. Tapi, mengalirnya kebaikan yang terus-menerus.
Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ada riwayat yang menyebutkan kalau sejumlah istri Rasulullah merasa cemburu dengan Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Sebab cemburunya sederhana. Yaitu, para sahabat Nabi kalau mau memberikan hadiah kepada Nabi, menunggu dahulu hingga beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berada di rumah Sayyidah Aisyah.
Para istri Rasul itu menyampaikan ‘protesnya’ kepada Rasulullah melalui Sayyidah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha.
Kira-kira, Ummu Salamah menyampaikan, “Bisakah disampaikan ke para sahabat kalau mau memberikan hadiah tidak harus menunggu di rumah Aisyah.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menampakkan rasa sungkan. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam meminta Ummu Salamah tidak memberatkan beliau dengan Aisyah.
Nabi juga menyampaikan bahwa Malaikat Jibril saja menunggu Rasulullah berada di rumah Aisyah untuk menyampaikan wahyu.
Karena itulah, para ulama menyebut rumah Aisyah sebagai mahbathul wahyi atau tempat turunnya wahyu.
Kemuliaan dan keberkahan rumah itu tidak hanya ketika Nabi masih hidup. Karena rumah yang hanya berukuran sekitar 30 meter per segi itu kini menjadi makam orang-orang paling mulia di sisi Allah: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhuma.
Diriwayatkan pula bahwa siang dan malam, para malaikat berada di situ untuk bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
**
Rumah yang berkah itu bukan soal luasnya. Bukan pula soal kemewahannya. Melainkan karena mengalirnya kebaikan dan keridhaan Allah yang terus-menerus.
Jangan jadikan rumah kita seperti kuburan. Ramaikan rumah kita dengan bacaan Al-Quran, shalat dan zikir keluarga, majelis taklim, bahkan kegiatan sosial untuk umat.
Jadikan rumah kita sebagai mata air pahala yang terus mengalir, meskipun kelak kita sudah tak lagi tinggal di situ. [Mh]





