PEMIMPIN itu juga teladan bawahannya. Baik atau buruknya pemimpin sangat berpengaruh pada bawahannya.
Suatu kali, Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu keluar bersama Al-Jarud radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat Nabi yang juga senior.
Di sebuah tempat, ada seorang wanita paruh baya yang berdiri dan memperhatikan mereka berdua. Setelah keduanya terlihat jelas, wanita ini pun berkata dengan kalimat tegas.
“Aku mengenalmu bernama Umair. Dahulu kamu sering berada di pasar Ukaz dan suka menakut-nakuti anak-anak dengan tongkatmu. Sekarang, kamu telah menjadi Amirul Mukminin,” ucapnya
Al-Jarud yang bersama Khalifah Umar agak terkejut. Ia melihat wanita itu begitu tegas dan berani.
“Siapa yang takut kepada Allah, maka apa yang jauh akan menjadi terasa dekat. Dan siapa yang takut dengan kematian, ia tidak akan meninggalkan semua kesempatan (untuk berbuat baik),” tambahnya lagi.
Al-Jarud pun menyela omongan wanita itu: “Anda berbicara terlalu banyak kepada Amirul Mukminin.”
Sontak, Khalifah Umar pun melarang Al-Jarud untuk menegur wanita itu. “Kamu tidak mengenal siapa dia, Wahai Al-Jarud. Dia adalah Khaulah binti Hakim. Allah saja mendengarkan omongannya, apalagi aku. Biarkanlah ia berbicara dan aku akan mendengarkan,” ungkap Khalifah Umar.
Dalam kehidupan Rasulullah, sosok Khaulah binti Hakim radhiyallahu ‘anha bukan orang sembarangan. Dialah sosok yang berada di balik perjodohan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan istri kedua dan ketiganya: Saudah binti Zam’ah dan Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhum.
**
Pemimpin umat itu, seperti apa pun derajat kepemimpinannya, tak ubahnya sebagai pelayan untuk orang-orang yang dipimpinnya. Bukan sebaliknya: tuan yang selalu meminta pelayanan dari bawahannya.
Seorang pemimpin umat yang baik akan menganggap rakyatnya sebagai tuan yang harus siap ia layani, serendah apa pun status sosialnya. [Mh]



