POPULASI lansia di dunia terus meningkat. Namun, hidup lebih lama tidak otomatis berarti hidup lebih bahagia, sebab kesehatan jiwa jauh lebih menentukan kebahagiaan lansia dibanding sekadar kesehatan fisik semata.
Demikian disampaikan oleh dokter spesialis kesehatan jiwa, dr. Yekti Nurhaeni, Sp. KJ, saat menjadi narasumber dalam Sekolah Lansia Salimah (Salsa) angkatan ke-5 dengan tema “Sehat dan Bahagia di Usia Senja” yang diadakan oleh Salimah Tulungagung pada Ahad (19/7) pagi di SIMA Lab Tulungagung.
Menurut dokter yang sehari-hari berpraktik di RSUD dr Soedomo Trenggalek ini, kunci menua yang bahagia terletak pada keseimbangan tiga hal. Pertama adalah sehat secara fisik yang ditandai dengan terjaganya fungsi tubuh dan mandiri dalam aktifitas sehari-hari.
Kedua sehat secara kejiwaan dengan menerima perubahan, mampu mengelola emosi, dan tetap merasa berharga. Serta ketiga adalah terlibat secara sosial dengan tetap terhubung dengan keluarga, kemunitas, dan lingkungan.
Untuk menjaga kesehatan jiwa lansia, ibu dua anak ini membagikan beberapa kiat. Pertama adalah latihan ketenangan batin melalui relaksasi, berdoa dan meditasi ringan.
“Shalat itu terapi kejiwaan. Kekhusyukan dalam shalat memberi ketenangan yang bahkan melampaui meditasi. Selain itu, latih rasa syukur atau qonaah dalam menjalani hari-hari tua,” tuturnya.
Kiat kedua adalah menjaga koneksi sosial, yaitu degan rutin berkumpul bersama keluarga, teman atau komunitas. Kiat ketiga adalah tetap berkegiatan seperti menjalankan hobi, belajar keterampilan baru atau bergabung dengan kegiatan sosial keagamaan.
Kiat keempat, dengan melatih rasa syukur melalui tulisan atau merenungkan hal baik setiap harinya. Yekti mengingatkan bahwa munculnya masalah di usia senja tidak selalu perlu disikapi dengan cemas berlebihan.
“Jika lansia ada masalah, bilang saja alhamdulillah, itu tanda masih hidup, itu biasa, semoga ringan jalannya.”
Selanjutnya, Yekti mengajak peserta Salsa mengenali sejumlah tanda yang menjadi “lampu kuning” bagi lansia maupun keluarga untuk segera mencari bantuan tenaga profesional. Di antaranya sedih berkepanjangan lebih dari dua minggu, menarik diri total dari lingkungan sosial, kehilangan minat pada aktivitas yang dulu disukai, hingga ucapan-ucapan putus asa atau keengganan untuk hidup.
“Dari tanda-tanda ini, sudah harus waspada untuk segera minta pertolongan ke tenaga profesional,” tegasnya.
Menutup paparannya, Yekti mengingatkan bahwa sehat dan bahagia di usia senja adalah keseimbangan antara raga yang terjaga, jiwa yang tenang, serta hubungan sosial yang hangat. “Usia senja bukan akhir dari makna hidup, melainkan babak baru yang penuh syukur dan kebahagiaan,” pungkasnya. [Mh/dyta, fat, Salimah]





