KOALISI Perempuan Peduli Al-Aqsha (KPIPA) menggelar Webinar bertajuk “Meneladani Keteguhan Gaza di Bulan Ramadhan”. Kajian online seri ke-16 ini dilaksanakan pada Sabtu (22/2) melalui zoom dan disiarkan langsung di kanal youtube KPIPA.
Nurjanah Hukwani yang juga Ketua KPIPA, menjadi Narasumber dalam kajian kali ini. Ia menceritakan penderitaan yang dialami penduduk Gaza selama menjalani bulan Ramadhan tahun lalu.
Dalam tayangan video, terlihat seorang warga bernama Hasnaa Jibril (58 tahun) mengatakan bahwa ia merebus air kotor untuk membuat sup dari kaktus dan rempah-rempah yang dikumpulkan dari ladang untuk sarapan.
“Kami menggunakan apa pun yang kami temukan,” kata Hasnaa dengan wajah sendu.
Nurjanah memaparkan, kelaparan telah memaksa warga Gaza untuk memakan tanaman herbal, yang sebelum perang mereka anggap tidak dapat dimakan. Ketiadaan makanan minuman yang cukup selama bulan suci membuat mereka merasakan seperti puasa tanpa berbuka.
“Sekan kami puasa terus menurus (tidak ada waktu sahur dan berbuka),” imbuh Hasnaa.
Tayangan video juga memperlihatkan penduduk lainnya bernama Al-Ghalayini bercerita, “kami tidak punya apa pun yang bisa membuat kami merasa seperti sedang berada di bulan Ramadan.”
Di sisi lain, lanjut Nurjanah, lebih dari 1.000 masjid hancur. Akibatnya, masyarakat melaksanakan salat tarawih di jalan-jalan dengan penerangan terbatas. Suara azan yang keluar dari pengeras suara masjid di Gaza berganti dengan suara dentuman bom dan tembakan.
Menyambut Ramadhan dengan Suka Cita
Meski mengalami penderitaan yang sangat luar biasa, kata Nurjanah, masyarakat Gaza menghadapinya dengan penuh kesabaran dan keteguhan. Al-Qur’an menjadi obat luka lahir batin bagi mereka.
“Yang menjadi rahasia keteguhan mereka adalah iman dan Al Qur’an. Mereka berhasil menciptakan sebuah masyarakat yang berpondasikan pada Al-Qur’an. Masyarakat Gaza adalah masyarakat yang sangat berpegang teguh pada Al-Qur’an,” ungkapnya.
Dalam video yang ditayangkan, terlihat seorang anak di Gaza mengalihkan rasa sakit ketika menjalani operasi tanpa bius, dengan membaca Al-Qur’an.
Setelah perjanjian gencatan senjata berlangsung dan tentara Israel mulai menghentikan penyerangan, rakyat Gaza menghadapi rumah dan harta benda mereka yang sudah hancur. Mereka juga kehilangan banyak sekali orang-orang yang dicintai.
“Seorang pemuda saat kembali dari tahanan Israel mendapati istri dan anak anaknya syahid,” ujar Nurjanah.
Karena itu, imbuhnya, umat Islam wajib membantu Palestina dengan melakukan edukasi dan donasi. [Mh/KPIPA]