NAMA Habibah binti Abu Sufyan menempati tempat istimewa di antara banyaknya kisah Ummul Mukminin yang hidup penuh ujian dan keteguhan iman.
Beliau lahir dari keluarga terpandang Quraisy dan merupakan putri dari Abu Sufyan bin Harb, salah satu tokoh yang pada awalnya menjadi penentang dakwah Rasulullah Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam.
Namun, di tengah lingkungan yang menolak Islam, Ummu Habibah justru memilih jalan keimanan dan tetap teguh mempertahankannya meskipun harus menghadapi berbagai cobaan berat.
Bani Bakar yang merupakan sekutu suku Quraisy melanggar perjanjian Hudaibiyah karena telah menyerang Bani Khuza’ah yang merupakan sekutu kaum muslimin di Madinah.
Baca Juga: Makam Mulia Dulunya Adalah Rumah Aisyah
Pelajaran Berharga dari Kehidupan Ummu Habibah binti Abu Sufyan
Abu Sufyan, tokoh Quraisy yang saat itu masih kafir, sangat mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Bani Bakar tersebut. Setelahnya, ia menyiapkan diri untuk berangkat ke Madinah untuk mengokohkan perjanjian Hudaibiyah dan memperpanjang masa berlakunya.
Setibanya di Madinah, ia menemui putrinya yaitu Ummu Habibah yang telah menjadi istri Rasulullah Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam untuk menjadi perantara dirinya pada Rasulullah.
Ketika Abu Sufyan hendak duduk, Ummu Habibah cepat-cepat mengangkat alas milik Rasulullah Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam dan menyingkirkan dari bapaknya.
Abu Sufyan kaget melihat hal tersebut dan berkata, “Wahai anakku, apakah engkau sayang kepadaku sehingga aku tidak boleh duduk di alas tersebut atau engkau sayang kepada alas itu sehingga aku tidak boleh duduk di atasnya?”
Ummu Habibah menjawab, “Ini adalah alas milik Rasulullah. Sedangkan engkau orang musyrik dan najis, makanya aku tidak suka engkau duduk di alas milik Rasulullah.”
“Demi Tuhan perangaimu kini jadi buruk wahai anakku.” Kata Abu Sufyan
“Tidak, justru aku diberi petunjuk oleh Allah kepada ajaran islam, sedang engkau wahai bapakku, adalah pemimpin dan pembesar suku Quraisy, mengapa engkau tidak bersedia masuk Islam? Malah menyembah batu yang tidak dapat mendengar dan melihat.” Jawab Ummu Habibah lugas.
Perjalanan hidup Ummu Habibah tidaklah mudah. Beliau rela meninggalkan kampung halaman demi berhijrah ke Habasyah, hidup jauh dari keluarga, dan menghadapi ujian ketika suaminya berpaling dari Islam.
Meski demikian, semua kesulitan tersebut tidak menggoyahkan keyakinannya kepada Allah SWT. Kesabaran, keberanian, dan keteguhan akidah yang dimiliki Ummu Habibah akhirnya mengantarkannya menjadi salah satu istri Rasulullah dan mendapatkan kemuliaan sebagai Ummul Mukminin.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Kisah hidup Ummu Habibah bukan sekadar catatan sejarah, melainkan sumber inspirasi yang mengajarkan tentang pentingnya menjaga iman dalam situasi apa pun.
Dari perjalanan hidupnya, umat Islam dapat mengambil banyak pelajaran berharga mengenai kesabaran menghadapi ujian, keberanian mempertahankan prinsip, serta keyakinan bahwa pertolongan Allah akan datang kepada hamba-Nya yang tetap istiqamah di jalan kebenaran. [DW]
Sumber: Kisah Wanita-wanita Teladan. Abdullah Haidir. Al-Sulay: 2005.





