KETIKA membahas istri-istri dan pendamping Rasulullah Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam, banyak kaum Muslimin lebih mengenal nama Khadijah, Aisyah, atau Hafsah.
Tetapi sejarah mencatat ada satu sosok wanita yang memiliki kisah istimewa, yaitu Maria Al-Qibthiyah. Ia berasal dari Mesir dan menjadi wanita yang sangat dicintai Rasulullah.
Dari Maria pula lahir putra Rasulullah yang bernama Ibrahim, satu-satunya anak laki-laki beliau yang lahir setelah masa kenabian.
Kisah Maria Al-Qibthiyah tidak hanya menggambarkan kelembutan dan kesetiaan, tetapi juga menunjukkan bagaimana Islam menghormati seseorang tanpa memandang asal-usul, suku, maupun status sosialnya.
Maria Al-Qibthiyah berasal dari kalangan bangsa Koptik Mesir. Ia hidup pada masa pemerintahan penguasa Mesir yang dikenal dengan nama Muqauqis.
Sekitar tahun 7 Hijriah, Rasulullah mengirim surat dakwah kepada berbagai penguasa dunia, termasuk Muqauqis, untuk mengajak mereka memeluk Islam.
Muqauqis tidak masuk Islam, tetapi ia menyambut baik utusan Rasulullah dan mengirimkan beberapa hadiah ke Madinah.
Di antara hadiah tersebut terdapat dua wanita bersaudara, yaitu Maria dan Sirin. Selain itu, Muqauqis juga mengirimkan berbagai hadiah lainnya sebagai bentuk penghormatan kepada Rasulullah.
Dalam perjalanan menuju Madinah, Maria mulai mengenal ajaran Islam. Setelah tiba di Madinah, ia memeluk Islam dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Sejak saat itu, kehidupannya berubah dan ia menjadi bagian dari keluarga Rasulullah.
Baca Juga: Qais bin Saad bin Ubadah, Ahli Strategi dan Dermawan
Maria Al-Qibthiyah, Wanita Mulia dari Mesir yang Menjadi Pendamping Rasulullah
Maria dikenal sebagai wanita yang lembut, santun, dan memiliki akhlak yang baik. Rasulullah memperlakukannya dengan penuh kasih sayang dan penghormatan. Karena berasal dari negeri yang berbeda dengan mayoritas penduduk Madinah, Maria sempat menghadapi berbagai tantangan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.
Peristiwa yang membuat nama Maria semakin dikenal dalam sejarah Islam adalah kelahiran putranya, Ibrahim bin Muhammad.
Kelahiran Ibrahim membawa kebahagiaan besar bagi Rasulullah. Setelah bertahun-tahun tidak memiliki anak laki-laki yang hidup hingga dewasa, kehadiran Ibrahim menjadi anugerah yang sangat berharga bagi beliau.
Setelah Rasulullah wafat, Maria tetap tinggal di Madinah. Ia hidup dengan penuh kesederhanaan dan terus menjaga kehormatan serta ketakwaannya.
Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, Maria mendapat perhatian dan penghormatan yang baik dari kaum Muslimin. Ia wafat sekitar tahun 16 Hijriah dan dimakamkan di Madinah.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Kisah Maria Al-Qibthiyah mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh asal-usul atau kebangsaan, melainkan oleh keimanan dan akhlaknya. Ia meninggalkan tanah kelahirannya, menerima Islam dengan hati yang lapang, dan menjalani kehidupan penuh kesabaran di tengah berbagai ujian. [DW]





