HAJI itu Arafah. Tidak sah haji tanpa hadir di Padang Arafah.
Hari ini, Selasa (26/5), jutaan umat Islam berkumpul di Arafah. Arafah merupakan tanah lapang yang luasnya sekitar 1.270 hektar. Lokasinya berada di sebelah timur Kota Mekah. Jarak dari Mekah sekitar 21 kilometer.
Lama perjalanan dengan mobil dari Kota Mekah ke Arafah tidak sampai 30 menit. Tapi di saat musim haji seperti saat ini, lama tempuhnya bisa 3 jam. Hal ini karena jutaan orang menuju ke tempat yang sama dan di waktu yang hampir sama.
Prosesi ini paling utama dalam ibadah Haji. Kenapa?
Makna Arafah
Tentu banyak hikmah yang bisa dikaji dari wukuf atau berdiam diri di Arafah ini. Dan hikmah itu bisa diambil dari makna Arafah sebagai nama tempat utama itu.
Arafah secara bahasa bermakna mengenali. Artinya, mungkin saja orang sering melihat sesuatu, tapi ia tidak mengenali sesuatu itu apa dan siapa. Karena itu, butuh waktu untuk fokus secara hati, pikiran, dan fisik; agar ada proses mengenali itu.
Satu, Mengenali Allah subhanahu wata’ala
Haji merupakan panggilan Allah subhanahu wata’ala kepada hamba-hambaNya. Panggilan ini sudah disuarakan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail alaihimussalam. Dan terasa lebih khusus lagi untuk umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga akhir zaman.
Di saat wukuf di Arafah itu, jutaan hamba Allah dengan busana putih berada di suatu tempat yang sama. Di bawah alam yang membentang: luas, panas, dan keras.
Di situlah kita akan lebih fokus lagi untuk bisa mengenal siapa Pencipta semua itu. Siapa yang memanggil dalam rangkaian syariat ibadah Haji. Siapa Allah subhanahu wata’ala?
Di situlah kita akan tertunduk. Mengakui keagungan yang luar biasa itu. Pencipta alam raya. Yang hanya bisa dilakukan oleh Yang Maha Segalanya. Yang tidak ada sekutu bagiNya.
Dua, Mengenali Diri Sendiri
Saat itu, kita akan menyadari betapa kecilnya kita. Siapa pun kita, apa pun kita: kita tak berarti apa-apa di Padang Arafah itu. Kita hanya hamba Allah yang memiliki banyak kelemahan dan kekurangan.
Sebuah kalimat hikmah mengatakan, “Man ‘arafa nafsahu, faqod ‘arafa rabbahu.” Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.
Saat itu, ras, bangsa, jenis kelamin, warna kulit, status sosial, jabatan; atau apa pun yang dibanggakan dalam kehidupan sehari-hari, tak apa-apanya di hadapan Allah.
Dalam busana yang serba putih itu pula, kita seperti diajak bercermin bahwa betapa kotornya diri kita. Begitu banyak dosa dan kesalahan yang saat itu kian mengecilkan kita di hadapan keagungan Allah.
Tiga, Cerminan Padang Mahsyar
Wukuf di Padang Arafah itu memberikan cerminan tentang suasana di Padang Mahsyar esok. Itulah tempat di mana semua umat manusia akan berkumpul untuk mendapatkan vonis sangat penting: surga atau neraka.
Vonis itu sangat bergantung pada apa yang kita lakoni di sepanjang hidup di dunia ini. Bersyukurlah mereka yang bertakwa dan sangat merugilah mereka yang fajir atau pendosa.
Momen ini sekaligus sebagai pengingat bahwa kita akan mengalami suasana ini di akhirat. Bedanya, kalau di akhirat tidak ada momen pengulangan waktu. Yang ada hanya penyesalan tanpa akhir. Tapi di Padang Arafah ini, masih ada waktu untuk bisa memperbaiki dan meningkatkan diri.
Menangislah dan menyesallah sejadi-jadinya terhadap segala keburukan yang dilakukan. Untuk kemudian kembali kepada Allah dalam keadaan lebih baik. [Mh]





